Selasa, 15 Oktober 2019

Tak Sengaja Terbaca

Tak sengaja aku membaca pesanmu (lagi). Pesan dari tahun 2013. Benar, saat pertama kali aku mengirim pesan untuk mu melalui media sosial facebook. Membaca pesanmu seperti nostalgia semasa aku baru lulus SMP dan kamu baru saja lulus SMA.

Aku tertawa kecil sambil membaca kalimat-perkalimat. Dulu kamu masih mengganggapku. Namun sekarang berbeda. Apa karena umur kita berbeda tiga tahun atau faktor lingkunganmu yang tidak selevel dengan ku (?)

Ada rasa nyeri didada mengingat sekarang, aku dan kamu sudah berbeda keadaan. Aku yang masih merindumu, sedangkan kamu tidak. Setiap aku menanyakan kabarmu. Kamu hanya sekali menanyakan, yaitu menanyakan kabarku. Setelah itu tidak ada lagi.

Selasa, 03 September 2019


Baik dan buruk mu aku coba untuk terima. Kesabaranmu memahami egoku yang tak stabil. Terima kasih sudah mau menjaga ku dan menegurku jika ada yang tidak baik untuk ku. Jika saat itu aku tidak balas whatsapp mu, mungkin sekarang kita tidak akan pernah kenal lagi.

Kamis, 02 Mei 2019

Ikhlas untuk melepaskan

Belajar mengikhlaskan tetang seseorang yang telah lama ku kenal namun ia masih ragu untuk mengenalku lebih dekat. Lalu aku yang sudah terbawa suasana bahwa aku benar mencintainya. Tiba-tiba saja dia menghindar setelah tahu aku merindunya dan aku punya rasa padanya. Mungkin dia bingung harus berbuat apa, dan keputusan dia memilih untuk menghindar dari aku.

Jumat, 15 Maret 2019

Hadiah Ulang Tahunmu

Tepat di tanggal 16 Maret umurmu akan bertambah. Bertambahnya usiamu menjadi sebuah anugrah dari Allah, karena telah memberikan kesempatan berbuat baik di dunia dan mengerjakan ibadah untuk bekal di akhirat. Di sini aku hanya bisa memberi doa yang terbaik. Tak perlu neko-neko untuk berdoa untukmu. Cukup kamu sehat dan mudah rezeki itu saja sudah cukup. Jaga kesehatanmu. Tak apa jika kamu tidak mengingatku, tapi disini aku selalu mengingatmu. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk bertemu denganmu. Entah itu besok, lusa atau tahun depan.

Aulia Salsabila. (3 jam menuju tanggal 16)

Senin, 31 Desember 2018

Berpindah



Akhirnya setelah tahun ke lima aku berharap dia bakal balik sama aku. Ternyata sampai sekarang dia tetap belum balik. Apakah aku salah menempatkan posisi? Apakah aku terlalu terbawa perasaan?

Ternyata selama ini dia menjauhi ku karena dia hanya engga mau kasih harapan ke aku. Istilah kekiniannya dia engga mau php in aku (pemberi harapan palsu). Ada benernya juga dia kasih kejelasan gitu. Mungkin sebenarnya dia memang tidak menyukaiku. Bagi ku tak mengapa, jika kamu tidak menyukai ku. Itu hak mu, mau mencintaiku atau tidak.

Sejak saat itu rasanya aku tak ingin mengenalmu lagi. Rasa kekecewaanku terhadapmu muncul, dan aku merasa semesta tidak memihakku. Merasa selama ini lima tahun ku menunggunya hanya kesia-siaan saja.
Malamnya aku menangis hingga tertidur sampai keesokan hari. Lalu aku terbangun dengan mata sembab, dan aku bergegas untuk melihat wajah yang buruk rupa ini di depan cermin. Ternyata benar wajah ku tidak terlihat baik. Kelopak mata ku membengkak, rambut acak-acakan.
Aku membatin "Benar juga, kenapa dia tidak menyukaiku. Karena keadaan ku seperti ini, jadi kau tidak menyukai ku."

Minggu, 18 November 2018

6 Tahun Pada Satu Nama

Sudah tahun ke enam, sejak terakhir pertemuan Aku dan Dia. Masih teringat wajahmu, senyummu, dan suaramu. Obrolan pertama yang tidak akan aku lupakan. Awalnya memang canggung, karena kali pertama bertatap wajah denganmu. Itulah kali pertama aku mulai menyukaimu. Memang terasa aneh, menyukai seseorang saat kali pertama berjumpa. Tapi asal kamu tahu, aku menyukaimu bukan karena fisik kamu. Tetapi tentang pengalaman hidupmu saat beberapa jam berbincang denganmu, membuatku merasa ada yang unik dari dirimu. Walaupun kamu sudah mengetahuinya dan berpura-pura untuk tidak mengetahuinya. Dan selalu menjaga jarak jika aku membahas hal-hal yang berhubungan tentang perasaan.

Aku tak pernah marah dengan sikap acuhmu, walaupun kamu selalu acuh kepadaku, tetapi aku tetap menyukaimu. Aku tak pernah marah kepadamu, saat kamu tidak pernah membalas pesan-pesan ku. Mungkin itu dulu, sebelum mengetahui yang sebenarnya. Saat pertanyaan yang sempat aku tanyakan kepadamu. Pertanyaan yang mungkin terasa asing ditelingamu. Memang aku sudah gila, sudah memberanikan untuk menanyakan hal semacam itu. Dan saat tahu jawaban yang kamu berikan hanya sebuah senyuman saja.

Sempat kesal melihat jawabanmu hanya senyum saja. Makin kesini, aku paham maksud emoticon senyum itu maksudnya apa. Yaa, yaa aku paham. Aku lebih baik mundur saja. Memang benar apa yang teman kamu katakan bahwa aku harus lupain kamu, cepat cari yang lain, dan jangan berharap lebih sama dia. Bahwa yang temanmu katakan kepadaku “Haduh caca, kaya engga ada yang lain aja. Masih aja si Andi. Mau sampai kapan ca?” Saat dia berkata seperti itu, aku membalas “Gimana yaa, aku juga bingung kenapa aku susah move on dari dia. Engga bisa jauhin pikiran tentang dia, karena setiap hari selalu mikiran dia wkk” dengan jawaban tidak serius, karena aku coba untuk menenangkan diri. Tentang apa yang dikatakan oleh Ade, temanmu.

Sebenarnya aku ingin sekali bertemu denganmu. Tetapi saat aku mencoba mengajak untuk bertemu selalu kamu menghindarinya, entah alasan A, B, C. Awalnya aku bisa memaklumi, tetapi seiring waktu berjalan hingga tahun ke enam ini aku baru bisa mengerti tentang alasanmu tidak bisa bertemu denganku. Bukan karena kamu sedang sibuk tentang pekerjaanmu, tetapi memang kamu malas saja untuk bertemu denganku. Tak usah kamu jelaskan, aku sudah mengetahuinya. Kamu pernah bilang kepadaku bahwa kamu akan mengajakku untuk menonton bioskop, pergi ke toko buku bersama dan meminum espresso bersama. Tetapi semua itu hanya omong kosong saja.

“Ya Tuhan, kenapa baru sekarang baru disadarkan. Kenapa tidak dari dulu saja.” Batin ku.

Teman ku pernah berkata “Seharusnya kamu bersyukur, kehadiran dia menjadi sebuah pembelajaran kamu kedepannya. Untuk tidak gampang terbawa perasaan kepada pria. Walaupun pria itu sudah kenal lama atau baru kenal. Kamu harus bersikap biasa saja. Bahwa sebenarnya apa yang kamu harapkan, terkadang tidak sesuai harapan. Karena Tuhan tidak menyukai hambanya yang terlalu berharap kepada makhluknya, bukan kepada Tuhannya. Makanya kamu berharap kepada Tuhanmu dulu baru kamu mengharapkan orang yang kamu cintai.”

Seketika aku mulai bangkit saat mendengar nasihat temanku. Bahwa aku harus memperbaiki diri terlebih dahulu, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Bahwa Tuhan sudah mempersiapkan jodoh kita masing-masing. Sebisa mungkin bersikap biasa saja, dan jangan berlebihan. Karena Tuhan tidak suka yang berlebih-lebihan kecuali kepada-Nya.

Semarang, November 2018

Jangan Harapkan Lagi

Bila hadirnya tak kunjung datang
Mungkin ia sudah tak mau menemuimu lagi
Walaupun kamu sudah memohon untuk bertemu dengannya

Tak usah dipaksakan lagi
Tak usah ditunggu lagi
Apa hatimu tidak lelah?

Mungkin kamu sudah bersabar
Dengan sikap dia terhadapmu
Mungkin kamu sudah memaafkan perlakuan dia kepadamu

Apa mau seperti ini terus kepadanya?

Aku hanya kasian saja, melihat kamu terlalu berharap kepada satu orang itu
Tapi sadar tidak, orang itu tidak pernah memikirkan kamu
Sedetik pun dia tidak pernah memperdulikan kamu

Seharusnya kamu sadar, sudah bertahun-tahun mengharapkan seseorang seperti dia
Karena kamu masih memprioritaskan dia berada dihatimu

Ku sarankan kamu segera melepaskan dia
Karena pasti ada seseorang yang diam-diam memperhatikanmu
Namun kamu tidak pernah melihatnya
Setidaknya cobalah untuk membuka hati, agar kekecewaan kemarin bisa segera terobati.

Brebes, November 2018