Baik dan buruk mu aku coba untuk terima. Kesabaranmu memahami egoku yang tak stabil. Terima kasih sudah mau menjaga ku dan menegurku jika ada yang tidak baik untuk ku. Jika saat itu aku tidak balas whatsapp mu, mungkin sekarang kita tidak akan pernah kenal lagi.
Selasa, 03 September 2019
Kamis, 02 Mei 2019
Ikhlas untuk melepaskan
Belajar mengikhlaskan tetang seseorang yang telah lama ku kenal namun ia masih ragu untuk mengenalku lebih dekat. Lalu aku yang sudah terbawa suasana bahwa aku benar mencintainya. Tiba-tiba saja dia menghindar setelah tahu aku merindunya dan aku punya rasa padanya. Mungkin dia bingung harus berbuat apa, dan keputusan dia memilih untuk menghindar dari aku.
Jumat, 15 Maret 2019
Hadiah Ulang Tahunmu
Tepat di tanggal 16 Maret umurmu akan bertambah. Bertambahnya usiamu menjadi sebuah anugrah dari Allah, karena telah memberikan kesempatan berbuat baik di dunia dan mengerjakan ibadah untuk bekal di akhirat. Di sini aku hanya bisa memberi doa yang terbaik. Tak perlu neko-neko untuk berdoa untukmu. Cukup kamu sehat dan mudah rezeki itu saja sudah cukup. Jaga kesehatanmu. Tak apa jika kamu tidak mengingatku, tapi disini aku selalu mengingatmu. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk bertemu denganmu. Entah itu besok, lusa atau tahun depan.
Aulia Salsabila. (3 jam menuju tanggal 16)
Aulia Salsabila. (3 jam menuju tanggal 16)
Senin, 31 Desember 2018
Berpindah
Akhirnya setelah tahun ke lima aku berharap dia bakal balik sama aku. Ternyata sampai sekarang dia tetap belum balik. Apakah aku salah menempatkan posisi? Apakah aku terlalu terbawa perasaan?
Ternyata selama ini dia menjauhi ku karena dia hanya engga mau kasih harapan ke aku. Istilah kekiniannya dia engga mau php in aku (pemberi harapan palsu). Ada benernya juga dia kasih kejelasan gitu. Mungkin sebenarnya dia memang tidak menyukaiku. Bagi ku tak mengapa, jika kamu tidak menyukai ku. Itu hak mu, mau mencintaiku atau tidak.
Sejak saat itu rasanya aku tak ingin mengenalmu lagi. Rasa kekecewaanku terhadapmu muncul, dan aku merasa semesta tidak memihakku. Merasa selama ini lima tahun ku menunggunya hanya kesia-siaan saja.
Malamnya aku menangis hingga tertidur sampai keesokan hari. Lalu aku terbangun dengan mata sembab, dan aku bergegas untuk melihat wajah yang buruk rupa ini di depan cermin. Ternyata benar wajah ku tidak terlihat baik. Kelopak mata ku membengkak, rambut acak-acakan.
Aku membatin "Benar juga, kenapa dia tidak menyukaiku. Karena keadaan ku seperti ini, jadi kau tidak menyukai ku."
Minggu, 18 November 2018
6 Tahun Pada Satu Nama
Sudah
tahun ke enam, sejak terakhir pertemuan Aku dan Dia. Masih teringat wajahmu, senyummu, dan suaramu. Obrolan pertama yang tidak akan aku lupakan. Awalnya memang canggung,
karena kali pertama bertatap wajah denganmu. Itulah kali pertama aku mulai
menyukaimu. Memang terasa aneh, menyukai seseorang saat kali pertama berjumpa. Tapi
asal kamu tahu, aku menyukaimu bukan karena fisik kamu. Tetapi tentang
pengalaman hidupmu saat beberapa jam berbincang denganmu, membuatku merasa ada
yang unik dari dirimu. Walaupun kamu sudah mengetahuinya dan berpura-pura
untuk tidak mengetahuinya. Dan selalu menjaga jarak jika aku membahas hal-hal
yang berhubungan tentang perasaan.
Aku
tak pernah marah dengan sikap acuhmu, walaupun kamu selalu acuh kepadaku,
tetapi aku tetap menyukaimu. Aku tak pernah marah kepadamu, saat kamu tidak
pernah membalas pesan-pesan ku. Mungkin itu dulu, sebelum mengetahui yang
sebenarnya. Saat pertanyaan yang sempat aku tanyakan kepadamu. Pertanyaan yang
mungkin terasa asing ditelingamu. Memang aku sudah gila, sudah memberanikan
untuk menanyakan hal semacam itu. Dan saat tahu jawaban yang kamu berikan hanya
sebuah senyuman saja.
Sempat
kesal melihat jawabanmu hanya senyum saja. Makin kesini, aku paham maksud emoticon senyum itu maksudnya apa. Yaa,
yaa aku paham. Aku lebih baik mundur saja. Memang benar apa yang teman kamu katakan bahwa aku harus lupain kamu, cepat cari yang lain, dan jangan berharap lebih
sama dia. Bahwa yang temanmu katakan kepadaku “Haduh caca, kaya engga ada yang
lain aja. Masih aja si Andi. Mau sampai kapan ca?” Saat dia berkata seperti
itu, aku membalas “Gimana yaa, aku juga bingung kenapa aku susah move on dari
dia. Engga bisa jauhin pikiran tentang dia, karena setiap hari selalu mikiran dia
wkk” dengan jawaban tidak serius, karena aku coba untuk menenangkan diri. Tentang
apa yang dikatakan oleh Ade, temanmu.
Sebenarnya
aku ingin sekali bertemu denganmu. Tetapi saat aku mencoba mengajak untuk
bertemu selalu kamu menghindarinya, entah alasan A, B, C. Awalnya aku bisa
memaklumi, tetapi seiring waktu berjalan hingga tahun ke enam ini aku baru bisa
mengerti tentang alasanmu tidak bisa bertemu denganku. Bukan karena kamu sedang
sibuk tentang pekerjaanmu, tetapi memang kamu malas saja untuk bertemu denganku. Tak usah kamu jelaskan, aku sudah mengetahuinya. Kamu pernah bilang kepadaku bahwa kamu akan mengajakku untuk menonton bioskop, pergi ke toko buku
bersama dan meminum espresso bersama. Tetapi semua itu hanya omong kosong saja.
“Ya
Tuhan, kenapa baru sekarang baru disadarkan. Kenapa tidak dari dulu saja.” Batin
ku.
Teman
ku pernah berkata “Seharusnya kamu bersyukur, kehadiran dia menjadi sebuah
pembelajaran kamu kedepannya. Untuk tidak gampang terbawa perasaan kepada pria.
Walaupun pria itu sudah kenal lama atau baru kenal. Kamu harus bersikap biasa
saja. Bahwa sebenarnya apa yang kamu harapkan, terkadang tidak sesuai harapan. Karena
Tuhan tidak menyukai hambanya yang terlalu berharap kepada makhluknya, bukan
kepada Tuhannya. Makanya kamu berharap kepada Tuhanmu dulu baru kamu mengharapkan
orang yang kamu cintai.”
Seketika
aku mulai bangkit saat mendengar nasihat temanku. Bahwa aku harus memperbaiki
diri terlebih dahulu, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Bahwa Tuhan sudah
mempersiapkan jodoh kita masing-masing. Sebisa mungkin bersikap biasa saja, dan
jangan berlebihan. Karena Tuhan tidak suka yang berlebih-lebihan kecuali
kepada-Nya.
Semarang, November 2018
Semarang, November 2018
Jangan Harapkan Lagi
Bila hadirnya tak kunjung datang
Mungkin ia sudah tak mau menemuimu lagi
Walaupun kamu sudah memohon untuk bertemu dengannya
Tak usah dipaksakan lagi
Tak usah ditunggu lagi
Apa hatimu tidak lelah?
Mungkin kamu sudah bersabar
Dengan sikap dia terhadapmu
Mungkin kamu sudah memaafkan perlakuan dia kepadamu
Apa mau seperti ini terus kepadanya?
Aku hanya kasian saja, melihat kamu terlalu berharap kepada satu orang itu
Tapi sadar tidak, orang itu tidak pernah memikirkan kamu
Sedetik pun dia tidak pernah memperdulikan kamu
Seharusnya kamu sadar, sudah bertahun-tahun mengharapkan seseorang seperti dia
Karena kamu masih memprioritaskan dia berada dihatimu
Ku sarankan kamu segera melepaskan dia
Karena pasti ada seseorang yang diam-diam memperhatikanmu
Namun kamu tidak pernah melihatnya
Setidaknya cobalah untuk membuka hati, agar kekecewaan kemarin bisa segera terobati.
Brebes, November 2018
Mungkin ia sudah tak mau menemuimu lagi
Walaupun kamu sudah memohon untuk bertemu dengannya
Tak usah dipaksakan lagi
Tak usah ditunggu lagi
Apa hatimu tidak lelah?
Mungkin kamu sudah bersabar
Dengan sikap dia terhadapmu
Mungkin kamu sudah memaafkan perlakuan dia kepadamu
Apa mau seperti ini terus kepadanya?
Aku hanya kasian saja, melihat kamu terlalu berharap kepada satu orang itu
Tapi sadar tidak, orang itu tidak pernah memikirkan kamu
Sedetik pun dia tidak pernah memperdulikan kamu
Seharusnya kamu sadar, sudah bertahun-tahun mengharapkan seseorang seperti dia
Karena kamu masih memprioritaskan dia berada dihatimu
Ku sarankan kamu segera melepaskan dia
Karena pasti ada seseorang yang diam-diam memperhatikanmu
Namun kamu tidak pernah melihatnya
Setidaknya cobalah untuk membuka hati, agar kekecewaan kemarin bisa segera terobati.
Brebes, November 2018
Kamis, 01 November 2018
JENDELA RUMAH SUSUN
Cerpen Aulia Salsabila
Hari
ini tepat di hari minggu keluarga salwa akan berpindah tempat tinggal.
Sebelumnya mereka tinggal dikolong jembatan disekitar daerah Jakarta selatan.
Dengan rumah sepetak ala kadarnya, tetapi tidak mempengaruhi keharmonisan salwa
dengan keluarganya. Salwa dan keluarga sangat bersyukur atas program pemerintah
yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Tetapi ada sebagian warga kolong
jembatan yang menolak untuk dipindahkan di tempat yang layak.
Mungkin karena tempat yang dulu ia tinggal memiliki sebuah kenangan.
Tempat
tinggal yang akan salwa tempati beserta keluarga yaitu sebuah rumah susun
dikawasan Jakarta timur. Sebelum pindah, orang tua salwa sudah mensurvei tempat
tinggal rusun tersebut. Menurut orang tua salwa jarak tempat tinggal yang baru
tidak begitu jauh. Dengan begitu mereka langsung sesegera untuk pindah, karena
jika tidak cepat maka akan berbeda dengan lokasi yang akan dihuni. Bisa saja
akan lebih jauh dari yang ini. Lokasi yang sekarang menurut orang tua salwa
sangat strategis, dimulai dari tempat kerja ayahnya yang sebagai tukang sapu
jalanan. Dan juga tempat sekolah salwa, walaupun harus menggunakan kereta commuterline
tetapi bagi salwa tidak ada masalah. Terpenting keluarga salwa mempunyai
tempat tinggal yang layak.
Setelah
selesai berkemas barang bawaan yang akan dibawa ke rumah susun. Salwa pun
berpamitan ke tetangga di kolong jembatan yang belum mau pindah ke rumah susun
tersebut. “Rat, lu bener kaga mau pindah? Tempatnya tuh nyaman tau. Sekali-kali
mampir yee! Daah ratna” Salwa langsung melambaikan tangan dengan nada kencang.
Sempat ada rasa sedih harus berpisah dengan sahabat kecilnya. Tak hanya itu
orang tua salwa pun sempat bersedih karena harus meninggalkan tempat kenangan
orangtua salwa. Walaupun begitu keluarga salwa harus mempunyai perubahan, walau
baru dimulai dari tempat tinggal.
Sesampai
di rumah susun, salwa pun langsung beristirahat duduk di kursi dekat pintu.
Karena terlalu kelelahan setelah menaiki tangga lantai empat ditambah lagi
dengan membawa tas yang begitu besar.
“Buset
cape bener ya, kalo naik turun tangga begini bisa-bisa gua kurus” ucap salwa.
Lalu ibu salwa menghampiri salwa yang sedang kelelahan.
Lalu ibu salwa menghampiri salwa yang sedang kelelahan.
“Baru
segitu udah ngeluh aja lu sal, itu belum ada seberapa dari kerja keras emak
babeh lu. Nih emak bawa es teh biar setrong.” Sahut ibu salwa sambil memberi
minum.
“Wah emak gua pengertian banget” ucap salwa sambil cengir-cengir.
“Wah emak gua pengertian banget” ucap salwa sambil cengir-cengir.
“Eh
jangan seneng dulu, habis ini beresin noh barang-barang lu dikamar sana tuh.”
Ucap ibu salwa kepada salwa.
“Yaelah
mak, baru gua puji eh ada maksud ternyata. Iye entar gua beresin. Santai!” Ucap
salwa sambil meminum es teh.
Setelah
salwa selesai membereskan barang bawaan miliknya, lalu salwa menuju jendela
kamarnya. Melihat rusun yang bersebelahan dan melihat ada seorang pria sedang
membereskan kamarnya. Nampaknya pria itu juga baru saja pindah di rumah susun
ini seperti dirinya. Tetapi salwa berbeda gedung, walaupun masih satu lokasi.
Rumah susun disini memiliki dua gedung. Gedung pertama diberi nama blok A dan
gedung satunya diberi nama blok B. Tidak ada yang berbeda, tempat dan
fasilitasnya pun sama saja, dari pihak pemerintah mungkin sengaja supaya
penghuninya bisa banyak pada satu lokasi tersebut.
Salwa
pun masih memandangi jendela kamar pria itu, pria tersebut langsung menyadari
bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Salwa pun langsung kaget,
dengan sigap salwa langsung memberi sapa kepada pria itu.
“Hai,
kamu orang baru juga disini?” Ucap salwa dengan lantang.
“Apa
aku tak mendengar.” Pria itu pun langsung menjawab.
“Kamu
baru pindah disini?” Ucap salwa dengan memperjelas ucapan.
“Oh,
iya. Aku baru pindah nih,” Ucap pria itu.
Setelah
itu salwa pun menjawab dengan isyarat jempol. Dan pria itu pun langsung
tersenyum. Dalam batin salwa langsung bertanya-tanya. Nama dia siapa? Dia
pindahan dari mana? Dengan wajah bahagia. Tak lama kemudian ibu salwa
menghampiri salwa dan menanyakan apakah sudah menyelesaikan tugasnya tadi.
“Sal
udah lu beresin belum barang bawaan lu. Malah senyum-senyum sendiri. Awas loh
sal, entar kesambet.” Ucap ibu salwa.
“Eh
iya mak, udah salwa beresin nih. Udah rapih juga kan kamar salwa. Salwa boleh
main berarti ye? Ucap salwa sambil memohon kepada ibu salwa.
“Mau
main kemana lu, boleh aja sih. Tapi sekitar sini aja. Awas sampe jauh-jauh lu.”
Ucap ibu salwa.
“Tenang
mak, orang masih sekitar rusun ko. Mau liat-liat juga sama lingkungan rusun
disini mak.”Ucap salwa sambil meninggalkan kamarnya.
Salwa
pun berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar. Saat berada dilantai tiga,
salwa berpapasan dengan pria yang ia temui saat siang hari di sebrang jendela
kamar salwa. Wajah salwa langsung berubah kemerahan, dan pria itu langsung
menghampiri salwa sambil memperkenalkan nama pria itu sambil berjabat tangan.
Sontak salwa langsung kaget tiba-tiba pria itu langsung memperkenalkan namanya.
Ternyata pria itu bernama Andi. Andi berasal dari purwodadi, dan andi disini
tinggal bersama ibunya. Ayah andi yang sedang bekerja proyek di luar jawa,
membuat andi dan ibunya tidak bisa tinggal bersama untuk sementara. Keluarga
andi memang keluarga yang pekerja keras, begitupun dengan andi. Ia sekarang
membantu orangtuanya sebagai penjual koran diselingi dengan bersekolah di sma
negeri di jakarta timur. Walaupun penghasilan dari menjual koran tidak
seberapa, bagi andi uang dari hasil koran tersebut akan diberikan kepada
ibunya. Faktor ekonomi disini sangat keras membuat keluarga andi harus berusaha
untuk bertahan hidup di tempat rantauannya.
Setelah
berkenalan dengan andi, salwa langsung mengajak andi ketempat favorit salwa.
“ndi
mau ikut gua nggak? Gua mau ke taman dekat rusun nih. Disana tempatnya adem
banget tau. Lu belum pernah kesana kan?” Ajak salwa.
“Emangnya
ada sal? Boleh aja sih, yuuk.” Jawab andi.
Lalu
mereka berdua pergi ke taman. Sesampai ditaman mereka langsung menuju ayunan
yang bergelantungan di pohon dan duduk di ayunan pohon bersama andi. Banyak
sekali pertanyaan salwa yang ditanyakan kepada andi. Andi pun tak segan
menjawab pertanyaan yang diucapkan oleh salwa. Perbincangan mereka berdua
sampai melupakan waktu, sampai senja tertelan oleh langit barat. Sampai azan
magrib berkumandang mereka pun baru menyadari jika waktu telah mereka lewatkan
dengan menikmati perkenalan yang membuatnya lupa dengan waktu.
Mereka
berdua lalu pulang ke rumah susun. Lambaian tangan andi kepada salwa menjadi
perpisahan sementara antara mereka berdua. Karena mereka berdua harus pulang ke
rumah masing-masing dan salwa tidak satu blok rusun dengan andi, membuat andi
dan salwa harus terpisah sementara. Hanya jendela kamar rumah susun saja mereka
berdua bisa saling bertemu. Jendela kamar andi dan salwa kebetulan
bersebelahan, walaupun tidak begitu dekat tetapi mereka berdua bisa saling
menatap. Dan juga saling bertukar senyum sapa kepada mereka berdua. Kadang
keisengan andi kepada salwa, yang sewaktu-waktu membuat salwa merasa kesal.
Pertemanan
mereka pun berjalan dengan baik. Tak hanya itu orangtua salwa dan andi juga
sudah saling mengenal. Biasanya ibu andi mengajak salwa untuk membantu membuat
kue. Karena ibu andi bekerja menjual kue tradisonal di pasar senen. Sesekali
salwa ikut membantu membawakan dagangan ibu andi, tentu dengan andi juga mereka
berdua selalu bersama-sama. Banyak teman-teman dan tetangga salwa bilang bahwa
salwa dan andi adalah pasangan yang cocok. Saat banyak orang yang bilang
begitu, tetapi salwa hanya menganggapnya santai saja. karena salwa menggapnya
andi adalah sosok pria yang hanya sebagai sahabat saja. Salwa khawatir jika
persahabatan yang ia jalani rusak karena rasa saling suka. Maka dari itu salwa
selalu menjaga jaga jarak supaya rasa itu tidak tumbuh didalam hatinya. Bagi
salwa jika andi adalah jodohnya maka mereka akan tetap bersama sebagai teman
hidupnya. Tak ada harapan lebih bagi salwa kepada andi. Salwa pasrahkan kepada
yang maha kuasa saja.
Langganan:
Postingan (Atom)