Tidak ada yang berubah di cafe itu.
Masih tertata rapih kursi-kursi dan meja yang saling berhadapan.
Akan kah kau datang ke cafe ini untuk menemuiku ?
Sudah hampir 3 jam aku menunggu di tempat ini.
Sampai secangkir espresso yang aku pesan sudah habis aku minum.
Namun ragamu tak kunjung datang .
Apa harus aku tinggalkan saja cafe ini dan pergi begitu saja ? "Tidak."
Aku akan tetap pergi,
Namun tidak pergi begitu saja.
Aku pergi dengan meninggalkan catatan kecil untukmu.
Aku harap kamu akan membacanya.
Saat tidak ada aku di cafe ini.
Mungkin sudah harus aku lupakan dan melepasmu.
Bukan aku tak bisa menunggu untuk menemuimu.
Namun kau saja masih tidak jelas dengan keberadaannya.
Terkadang kau datang menyapa aku.
Lalu lenyap begitu saja tanpa menjawab yang aku ucapkan.
Minggu, 03 September 2017
Selasa, 03 Januari 2017
SEMARAK BULAN BAHASA
Oleh:
Aulia Salsabila/ 3D/ 15410150
Seluruh
Mahasiswa FPBS Universitas PGRI Semarang memperingati Puncak Bulan Bahasa
dengan mengadakan Festival Budaya di Balairung Universitas PGRI Semarang pada
hari Kamis 27 Oktober 2016 dengan memakai pakaian adat daerah. Kehadiran rektor
Universitas PGRI Semarang sekaligus membuka acara Festival Budaya Bulan Bahasa
oleh Dr. H. Muhdi, SH., M.Hum. dan juga kehadiran Dekan Fakultas Pendidikan
Bahasa dan Seni. Tak hanya itu acara tersebut mengadakan perlombaan tari kreasi
yang diikuti oleh seluruh mahasiswa FPBS. Semarak kemeriahan yang terlihat dari
acara tersebut membuat mahasiswa dan dosen menjadi bergembira. Peserta tari
kreasi yang diikuti sebanyak 27 peserta dengan membawakan tarian daerah yang
kreatif dan juga pakaian yang unik membuat para juri terkesima.
Dalam
kegiatan tersebut setiap tim menampilkan berbagai tari tradisional mulai dari
Saman, Reog, Gambyong, hingga Topeng Ireng. Dengan 27 peserta mahasiswa yang
mengikuti lomba, terpilihlah 6 peserta yang mendapatkan skor tertinggi
diantaranya mendapatkan juara umum dan juga juara 1, 2, dan 3. Bagi saya semua
penampilan tari kreasi sangat kreatif tak hanya itu ada salah satu peserta yang
membawakan tari reog ponorogo membuat penonton menjadi heboh karena membawakan
ciri khas dari tari reog tersebut, mahasiswa juga mampu membawa barongan yang
beratnya puluhan kilogram.
Pada
keesokan harinya yaitu pada Tanggal 28 Oktober 2016 bertepatan dengan Hari
Sumpah Pemuda. Mahasiswa Universitas PGRI Semarang mengadakan orasi di halaman
Gedung Umum. Mahasiswa yang menyuarakan orasinya tentang perubahan bagi para pemuda dan juga menjadi
para pemuda yang aktif dalam hal positive dan juga pemuda yang kreatif. Tak
hanya itu para mahasiswa bergantian untuk ber orasi menyuarakan orasi yang
positive. Bagi yang tak ber orasi bisa juga mahasiswa menulis catatan pada
kertas berwarna yang sudah disediakan oleh salah satu panitia, isi kertas
tersebut berupa pesan untuk para pemuda generasi penerus bangsa yang kedepannya
bisa menjadi contoh yang baik bagi semuanya.
Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam
sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar
ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita
berdirinya negara Indonesia. Yang
dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober
1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita
akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan
"bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi
setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam
segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
Istilah "Sumpah Pemuda"
sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan
setelahnya. Berikut ini adalah bunyi
tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen.
Isi dari Sumpah Pemuda yang dibacakan pada 28
Oktober 1928:
Pertama : Kami poetra dan poetri Indonesia,
mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Sedikit cerita, bahwa rumusan Kongres Sumpah Pemuda ini ditulis oleh Muhammad
Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr.
Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada
Soegondo: Ik heb een eleganter
formulering voor de resolutie (Saya
mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang
kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian
diteruskan kepada yang lain untuk paraf
setuju juga. Sumpah tersebut
awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.
Pada malam
harinya mengadakan event parade dan penampilan teater gema yang ikut
memperingati hari Sumpah Pemuda tersebut. Penampilan parade yang meriah dan
juga penampilan teater gema yang memukau, membuat penonton yang melihat menjadi
terkesima. Bisa dilihat dari nilai nilai yang disampaikan oleh para pemain yang
menampilkan aksi pada malam itu.
Bagi saya
sumpah pemuda itu merupakan sebuah janji atau ikrar khusnya bagi para pemuda.
Supaya pemuda Indonesia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi pemimpin bagi
setiap yang ia geluti. Tentunya merubah tatanan nilai-nilai bangsa yang lebih
baik, dan juga menjadi pemuda yang aktif dan kreatif. Menjadikan contoh bagi
generasi pemuda yang baik bagi bangsanya. Ikut serta membangun tatanan negara
yang semakin maju, supaya tidak kalah dengan negara yang lainnya. Sebagai
pemuda yang baik kita harus mencontohkan perilaku yang baik, tata krama yang
baik dan juga sopan santun terhadap lawan biacaranya.
Pesan untuk generasi selanjutnya,
supaya Negara Indonesia bisa selalu rukun. Bagi para pemuda supaya tidak terjadi
adanya aksi anarkis yang biasa terlihat antar sesama sekolah maupun antar
wilayah. Jangan saling adanya bentrok lagi. Kita harus rukun karena negara kita
identik dengan persatuan yang aman dan tentram seperti sedia kala.
Jumat, 23 Desember 2016
KEKHAWATIRAN PERTELEVISIAN INDONESIA
TRIBUN
JATENG – Sehubungan
dengan opini yang dimuat pada tanggal (Jumat, 23 Desember 2016) dengan
judul “Ibu, Televisi dan Generasi Internet” Oleh Tri Pujiati (Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Dari Opini yang dimuat, saya sependapat dengan
saudari. Bahwa maraknya acara televisi pada beberapa dekade ini yang semakin
kesini semakin tidak bermutu, tontonan yang seharusnya tidak ditonton oleh
anak-anak tetapi seperti dipaksa untuk ditonton. Karena tidak ada pilihan lain
acara yang akan ditonton. Terlebih lagi acara anak-anak yang semakin berkurang.
Padahal acara televisi untuk anak-anak sangat diperlukan, terlebih untuk
membangun karekter dan psikologi yang harus mendapatkan ajaran yang baik. Jika
acara televisi seperti ini terus generasi penerus bangsa akan menjadi rusak.
Belum sepatutnya anak-anak dibawah umur menonton acara yang sepatutnya belum
diperbolehkan untuk ditonton, seperi : Sinetron, gosip, kekerasan dan
sebagainya. Membuat karakter anak menjadi rusak dengan acara yang seperti itu.
Bahwa Perusahaan televisi sekarang
hanya mengejar target untuk meningkatkan ratting yang tinggi. Bagi mereka, yang
penting diterima oleh masyarakat tanpa memperdulikan efeknya terhadap perkembangan
anak. Sungguh miris jika seperti itu adanya.
Tingkat anak-anak yang memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi, berpotensi untuk menirukan adegan atau perbuatan yang
dilihat olehnya. Maka untuk mengatasinya, bagi orang tua harus mengawasi saat
anak-anaknya untuk menonton televisi. Supaya tontonan yang dilihat tidak
berdampak yang buruk. Sudah dikatakan pada opininya bahwa keberadaan orang tua
terutama ibu sangat diperlukan untuk menanamkan kesadaran serta menyeleksi
acara yang pantas bagi anak-anaknya.
Pada dasarnya
televisi itu merupakan informasi yang didapat pada hal yang dilihat melalui
televisi tersebut. Karena tak harus dengan surat kabar, majalah, dan lainnya,
untuk mengetahui informasi tersebut. Maka dengan televisi seharusnya sudah
mendapatkan informasi yang positif, bukan hal negative yang didapat.
Seperti hasil survei yang dikemukaan
oleh opini saudari oleh Nielsen Audience Measurement pada 2012 menunjukkan
bahwa masyarakat Indonesia yang menonton televisi mencapai 95%.kemudian disusul Internet
dengan 33%, radio 20%, surat kabar 12%, tabloid 6%, dan majalah 5%.
Badan Pusat statistik (BPS) pada tahun
2006 mencatat, penduduk dengan usia di atas 10 tahun yang menonton TV jumlahnya
85,86% dan yang membaca surat kabar 23,46%. Selanjutnya pada tahun 2009,
penduduk yang menonton TV mencapai 90,27% dan membaca surat kabar 18,94%. Pada
tahun 2012 menunjukkan, penduduk yang menonton TV berjumlah 91,68% dan yang
membaca surat kabar berjumlah 17,66%.
Ada beberapa cara supaya penonton
tertarik pada acara televisi yang menurut saya tidak menarik, yaitu dengan
mengundang artis yang sedang naik daun, atau memerankan tokoh pada sinetron.
Dengan mudah masyarakat tertarik untuk menonton acara televisi tersebut.
Dan
beberapa beberapa dekade akhir-akhir ini berkurangnya artis cilik yang
menanyangkan acara yang khusus untuk usia anak-anak. Dahulu saya ingat ada
acara televisi anak tahun 90’an yaitu : “Si Komo” Apakah ada yang masih ingat Si
Komo? Program untuk anak-anak yang tayang sekitar tahun 1997
pertama kali muncul di TPI, tayang setiap pagi pukul 08.00 WIB. Tokoh ikonik si
Komo ini terinspirasi dari binatang Komodo.
Tayangan ini sangat inspiratif dan edukatif sehingga mendapat pujian
dan apresiasi dari Presiden kala itu dan tentunya para orang tua yang sangat
tertolong dalam pembentukan karakter anak-anaknya. Tokoh yang sering
mengucapkan "weleh…weleh.."
ini di Dubbing oleh Kak Seto yang kemudian dikenal
hingga saat ini sebagai pemerhati anak.
Coba kita lihat sekarang apakah ada acara yang mendidik seperti acara
televisi saat tahun 90’an. Bagi saya semakin kesini semakin berkurang. Mungkin
ada, tetapi tidak sebagus yang dahulu. Atau pengemasannya saja yang jaman
sekarang semakin maju. tetapi tidak tahu juga sih.
Jadi pertelevisian yang mendidik yang dibutuhkan bagi anak-anak. Supaya
mereka
mengerti dan memahami acara-acara apa yang pantas untuk ditonton dan tidak. Dan
juga perlu adanya dukungan dari KPI yang harus lebih tanggap atas insiden yang
tidak baik ini.
Selain dari KPI, peran orangtua pun sangat penting untuk memantau apa
saja yang ditonton oleh anak-anak. Khusus pada seorang ibu dituntut untuk lebih aktif
memantau anak-anaknya baik siang maupun malam agar tidak terjebak pada acara televisi yang tidak mendidik.
Maka psikologi anak
sangat penting untuk kedepannya, supaya menjadi warisan bangsa yang unggul dan
berkarakter berbudi luhur. Jika awalnya sudah tercemar dengan hal yang tidak
baik maka seterusnya akan seperti itu. Jadi lebih baik dicegah lebih dini
ketimbang terlambat untuk ditanganinya.
Pesan dari saya,
jadilah penikmat pertelevisian yang bijak. Harus bisa mengetahui porsi tontonan
yang kita tonton sesuai usia kita. Jangan sampai salah, jika salah maka yang
didapat bukan informasi tetapi hanya kesiasiaan saja yang kita lihat.
Aulia Salsabila.
Mahasiswa Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang.
(24 Desember 2016)
Minggu, 18 Desember 2016
Simbangsiur UN
Ujian Nasional menjadi sesuatu yang mengerikan bagi kalangan pelajar, maka dari itu menurut saya Ujian Nasional sebaiknya diubah atau digantikan dengan evaluasi yang sepadan dengan pembelajaran yang diampuh oleh siswa. Jadi siswa tidak was-was saat menghadapi ujian akhir. Karena saya sudah merasakan perasaan was-was saat menghadapi Ujian Nasional. Harus menambah jam belajar dirumah maupun jam tambahan disekolah. Tak hanya itu, jadwal ujian nasional yang diadakan hanya tiga hari tidak sepadan dengan pembelajaran siswa yang diampuh sampai bertahun-tahun tetapi penentuannya diadakan hanya tiga hari saja. Ini merasa tidak adil. walaupun persiapan sudah direncanakan berbulan-bulan sebelum ujian dimulai.
Lebih baik setiap sekolah mengadakan ujian tiap mata pelajaran supaya siswa bisa mempelajari semuanya, bukan seperti pada ujian nasional yang diujikan hanya 3 atau 4 mata pelajaran saja.Lalu tingkat soalnya pun harus sesuai dengan tiap sekolah itu sendiri. karena setiap sekolah tingkat kompetensinya berbeda-beda. karena penentu kelulusan sebenarnya dari sekolah itu sendiri bukan dari pemerintah.
(Aulia Salsabila, 3D PBSI)
Lebih baik setiap sekolah mengadakan ujian tiap mata pelajaran supaya siswa bisa mempelajari semuanya, bukan seperti pada ujian nasional yang diujikan hanya 3 atau 4 mata pelajaran saja.Lalu tingkat soalnya pun harus sesuai dengan tiap sekolah itu sendiri. karena setiap sekolah tingkat kompetensinya berbeda-beda. karena penentu kelulusan sebenarnya dari sekolah itu sendiri bukan dari pemerintah.
(Aulia Salsabila, 3D PBSI)
Kamis, 15 Desember 2016
LINGUISTIK FUNGSIONAL SISTEMIK
Aliran ini diperkenalkan oleh salah
seorang murid Firth yang mengembangkan teori Firth mengenai bahasa, khususnya
yang berkenaan dangan segi masyarakat bahasa, yaitu M.A.K. Halliday. Sebagai
penerus Firth dan berdasarkan karangannya Categories of the Theory of Grammar,
maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian
Linguistics atau Skala dan Kategori Linguistik. Namun, kemudian ada nama baru,
yaitu Systemic Linguistics atau Linguistik Sistemik.
Teori
linguistik fungsional, apapun sebutan yang ada, teori ini tidak bisa lepas dari
seseorang yang bernama Michael Alexander Kirkwood Halliday (MAK Halliday) yang
telah menemukan dan mengembangkan teori kebahasaan tersebut. Ia merupakan salah
seorang murid dari Firth, seorang ahli bahasa yang mengembangkan aliran Firth,
guru besar di Universitas London, dimana Halliday belajar.
Sebagai
penerus Firth dalam bidang kemasyarakatan bahasa serta pada sebuah karangannya
Categories of the Theory of Grammar, Halliday mengembangkan suatu teori
linguistik, yang mula-mula dikenal sebagai Neo-Firthian Linguistics atau Scale
and Categories Linguistics. Namun dikemudian waktu, muncul nama baru untuk
teori ini, Systemics Linguistics (dalam bahasa Indonesia disebut Linguistik
Sistemik). Karya besar pertamanya tentang masalah tata bahasa adalah
"Kategori dari teori tata bahasa", yang diterbitkan dalam jurnal
Firman pada tahun 1961 .
Dalam
tulisan ini, ia berpendapat untuk empat "kategori fundamental" bagi
teori tata bahasa: "Unit", "struktur", "kelas"
dan "sistem". Kategori-kategori ini menurutnya adalah "dari
urutan tertinggi abstraksi", tapi dibela seperti yang diperlukan untuk
"memungkinkan account koheren tentang apa tata bahasa dan tempatnya dalam
bahasa" Dalam mengartikulasikan unit 'kategori', Halliday mengusulkan
gagasan tentang 'skala peringkat' a. Unit tata bahasa membentuk
"hierarki", skala dari "terbesar" ke "terkecil"
yang diusulkan sebagai: "kalimat", "klausul",
"kelompok / frase", "kata" dan "morfem" .
Linguistik
fungsional sistemik (SFL) adalah sebuah pendekatan untuk linguistik yang
menganggap bahasa sebagai sistem semiotik sosial. Ini dikembangkan oleh Michael
Halliday, yang mengambil gagasan sistem dari gurunya, JR Firth. Sedangkan Firth
dianggap sistem untuk merujuk kemungkinan subordinasi struktur, Halliday dalam
arti tertentu "dibebaskan" dimensi pilihan dari struktur dan membuat
dimensi pokok berbagai teori ini. Dengan kata lain, sedangkan banyak pendekatan
untuk linguistik struktur deskripsi tempat dan sumbu sintagmatik di latar
depan, Hallidean teori fungsional sistemik mengadopsi sumbu paradigmatik
sebagai titik tolak. Istilah sistemik sesuai foregrounds Saussure "poros
paradigmatik" dalam memahami bagaimana bahasa bekerja. Untuk Halliday,
prinsip teoritis sentral kemudian bahwa setiap tindakan komunikasi melibatkan
pilihan. Bahasa adalah sistem, dan pilihan yang tersedia di setiap berbagai
bahasa dipetakan menggunakan alat representasi dari "jaringan
sistem". Michael Halliday, yang mendirikan linguistik fungsional sistemik.
Linguistik
fungsional sistemik juga "fungsional" karena menganggap bahasa telah
berevolusi di bawah tekanan fungsi tertentu bahwa sistem bahasa harus melayani.
Oleh karena itu fungsi yang diambil telah meninggalkan jejak mereka pada
struktur dan organisasi bahasa di semua tingkatan, yang dikatakan dicapai
melalui metafunctions. Term metafunction ini khusus linguistik fungsional
sistemik. Organisasi kerangka fungsional di sekitar sistem, yaitu, pilihan,
perbedaan yang signifikan dari lainnya pendekatan "fungsional",
seperti, misalnya, tata bahasa fungsional Dik ini (FG, atau seperti sekarang
sering disebut, fungsional wacana tata bahasa) dan tata bahasa fungsional
leksikal.
HOW TO MAKE CHEESE CHOCOLATE SANDWICH
Ingredients :
-
2 Sliced bread
-
Condensed
milk chocolate
-
Meses
chocolate
-
Grated
Cheese
Steps:
-
First,
place two slices of bread on a plate.
-
Second,
pour the condensed milk chocolate on two slices of bread.
-
Then,
sprinkle with grated cheese and meses.
-
Then,
stack into a sandwich
-
Sliced
into two pieces of bread.
-
Finaly,
cheese chocolate sandwich are ready to serve.
Senin, 31 Oktober 2016
SASTRA YANG TAK PERNAH PADAM
3Buku, 3
Kritikus, 3 Pembaca, 1 Pengarang.
Oleh:
Aulia Salsabila/3D/PBSI/15410150
Pada
hari Rabu tanggal 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan UPGRIS
Bersastra dengan mengadakan bedah dan pembacaan karya Triyanto Triwikromo untuk
merayakan Bulan Bahasa. Dengan judul 3 Buku, 3
Kritikus, 3 Pembaca, 1 Pengarang. Acara tersebut di isi oleh pembacaan puisi
oleh Rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi, S.H., M.Hum. Wakil rektor 1
Dra. Sri Suciati, M.Hum, dan kelompok musik Biscuittime. Tak hanya itu acara
tersebut dihadiri Ketua Dekan FPBS Dra. Asropah, M.Pd. Selain itu di isi
diskusi yang di isi oleh pakar posmodern Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo
Utomo, dan pegiat buku Widyanuari Eko Putra. Bedah dan pembacaan karya Triyanto
Triwikromo ini dimoderatori oleh kritikus sastra Harjito.
Singkat perjalanan hidupnya Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, 15 September 1964. Lulus
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Semarang. Sebelum
sebagai seorang sastrawan beliau pernah bekerja sebagai guru. Di samping
bekerja sebagai redaktur sastra di harian Suara merdeka Semarang, dia juga
menulis cerpen di Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaharuan,
Matra, Bernas, Jawa Pos, Pelita, Suara Merdeka, dan Republika.
Selain
sebagai seorang penulis, dia kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra.
Antara lain menjadi pembicara dalam “Pertemuan Teater Indonesia 1998” di
Yogyakarta, mengikuti “Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997” di Padang, dan
menjadi aktivis Gerakan Revitalisasi Sastra Perdalaman.
Beliau
juga pernah membuat naskah sinetron yang berjudul Anak-Anak Mengasah Pisau yang
digarap sutradara Dedi Setiadi. Pada tahun 1989 beliau dinobatkan sebagai
penyair terbaik majalah Gadis. Tahun 1990 beliau dinyatakan sebagai salah
seorang penyair terbaik versi Dirjen Kesenian RI. ''Mata Sunyi Perempuan
Takroni'' terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas 2002.
KARYA Triyanto
Triwikromo:
Cerpenis yang
dikatagorikan Korri Layun Rampan ke dalam “Angkatan 2000” ini beberapa
cerpennya dianalogikan bersama cerpenis lain dalam:
1. Panorama Dunia Keranda (1991),
2. Kasidah Jalan Raya (1992),
3. Kicau Kepodang I (1993),
4. Ritus (1995),
5. Negeri Bayang-Bayang (1996),
6. Gerbong: Antologi Puisi dan Cerpen Indonesia Modern (1998),
7. Pintu Tertutup Salju (2000 bersama Herlina Solehan),
8. Rezim Seks dan Ragaula (2002),
9. Children Sharpening the Knives (2003),
10. kumpulan cerpen Sayap Anjing (2003).
1. Panorama Dunia Keranda (1991),
2. Kasidah Jalan Raya (1992),
3. Kicau Kepodang I (1993),
4. Ritus (1995),
5. Negeri Bayang-Bayang (1996),
6. Gerbong: Antologi Puisi dan Cerpen Indonesia Modern (1998),
7. Pintu Tertutup Salju (2000 bersama Herlina Solehan),
8. Rezim Seks dan Ragaula (2002),
9. Children Sharpening the Knives (2003),
10. kumpulan cerpen Sayap Anjing (2003).
Kumpulan
Cerpen Terbarunya dibuat dalam dwibahasa (Inggris-Indonesia)
Cerpen-cerpen beliau antara lain,
1. “Tujuh Belas Agustus, Tampa Tahun” (1991),
2. “Monumen” (1991),
3. “Ritus Penyalipan” (1992),
4. “Labirin Kesunyian” (1992),
5. “Sepanjang Waktu dalam Penyalipan-Mu” (1993),
6. “Litani Kebinasaan”, (1993),
7. “Ninabobo Televisi” (1996),
8. “Cinta Tak Mati-Mati” (1997),
9. “Masuklah ke Telingaku Ayah” (1999),
10. “Mata Sunyi Perempuan Takroni” (2002),
11. “Sepasang Anjing Sepasang Cermin” (2002),
12. “Cermin Pasir” (2002),
13. “Sunyi Merambat Seperti Ular” (2002),
14. “Morgot” (2002),
15. “Ikan Asing dari Weipa – Nappranum” (2002),
16. “Cermin Pasir” (2002),
17. “Cinta Sepasang Kupu-Kupu” (2003),
18. “Genjer” (2003),
19. “Malam Sepasang Lampion” (2003),
20. “Cutdacraeh” (2003),
21. “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah” (2003),
22. “Sayap Anjing” (2003),
23. “Aku, Ular, Surga Terakhirmu” (2003),
24. “Angin dari Ujung Angin” (2004),
25. “Malaikat Kakus” (2005),
26. “Sayap Kabut Sultan Ngamid” (2005),
27. “Lumpur Kuala Lumpur” (2005),
28. “Malaikat Tanah Asal” (2006),
29. “Belenggu Salju” (2007),
30. “Badai Bunga” (2007), dan
31. “Matahari Musim Dingin” (2007).
Cerpen-cerpen beliau antara lain,
1. “Tujuh Belas Agustus, Tampa Tahun” (1991),
2. “Monumen” (1991),
3. “Ritus Penyalipan” (1992),
4. “Labirin Kesunyian” (1992),
5. “Sepanjang Waktu dalam Penyalipan-Mu” (1993),
6. “Litani Kebinasaan”, (1993),
7. “Ninabobo Televisi” (1996),
8. “Cinta Tak Mati-Mati” (1997),
9. “Masuklah ke Telingaku Ayah” (1999),
10. “Mata Sunyi Perempuan Takroni” (2002),
11. “Sepasang Anjing Sepasang Cermin” (2002),
12. “Cermin Pasir” (2002),
13. “Sunyi Merambat Seperti Ular” (2002),
14. “Morgot” (2002),
15. “Ikan Asing dari Weipa – Nappranum” (2002),
16. “Cermin Pasir” (2002),
17. “Cinta Sepasang Kupu-Kupu” (2003),
18. “Genjer” (2003),
19. “Malam Sepasang Lampion” (2003),
20. “Cutdacraeh” (2003),
21. “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah” (2003),
22. “Sayap Anjing” (2003),
23. “Aku, Ular, Surga Terakhirmu” (2003),
24. “Angin dari Ujung Angin” (2004),
25. “Malaikat Kakus” (2005),
26. “Sayap Kabut Sultan Ngamid” (2005),
27. “Lumpur Kuala Lumpur” (2005),
28. “Malaikat Tanah Asal” (2006),
29. “Belenggu Salju” (2007),
30. “Badai Bunga” (2007), dan
31. “Matahari Musim Dingin” (2007).
Saat
acara akan dimulai para mahasiswa FPBS sudah berkumpul di Balairung Universitas
PGRI Semarang dengan suka cita. Dengan suasana hikmat acarapun dimulai. Sebelum
bapak rektor membuka acara, kelompok musik
Biscuittime menampilkan 3 buah lagu. Setelah selesai menampilkan beberapa lagu
barulah rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi, S.H., M.Hum membuka acara 3
Buku, 3 Kritikus, 3 Pembaca, 1 Pengarang. Tak lama setelah pembukaan, barulah
puisi karya Triyanto Triwikromo yang berjudul Takziah dibaca oleh Bapak Rektor Dr.
Muhdi, S.H., M.Hum dan puisi yang kedua yang berjudul Mereka Memalsukan
Kisahku. Kedua puisi yang dibaca oleh Rektor Universitas PGRI Semarang menjadi
sorotan oleh mahasiswa dan tamu undangan yang hadir. Tak menyangka bahwa ada
suatu kejutan yang ditampilkan oleh bapak rektor yaitu dengan menampilkan
nyanyian dengan iringan gitar sendiri. Seluruh yang hadir pada saat itu
terkesima. Ternyata Rektor Universitas PGRI Semarang memiliki bakat terpendam
yaitu bergitar sambil bernyanyi.
Setelah itu Wakil Rektor 1 Dra. Sri Suciati, M.Hum.
membacakan puisi karya Triyanto Triwikromo dengan judul Selir Musim Panas. Dengan
penampilan cara membaca puisi yang berbeda dengan nada nembang jawa yang berduet dengan mahasiswa Pendidikan
Bahasa Inggris. Membuat bulu kuduk kami semakin terasa karena suara Wakil
Rektor 1 Ibu Suci yang sangat merdu. Semua hadirin bertepuk tangan karena
penampilan yang sangat memukau. Lalu
penampilan kedua oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang menampilkan
membaca puisi karya Triyanto Triwikromo. Dan menampilkan suatu Drama dengan
dibacakan puisi-puisin karyanya. Dengan musik dan tata dekorasi yang apik serta
penampilan yang menarik membuat semua yang hadir terkesima.
Diskusi dan
pembedahan 3 buku karya Triyanto Triwikromo pun dimulai, yang diisi oleh pakar
posmodern Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo Utomo, dan pegiat buku Widyanuari
Eko Putra. Bedah dan pembacaan karya Triyanto Triwikromo ini dimoderatori oleh
kritikus sastra Harjito. Cerpenis S Prasetyo Utomo pun membacakan sebuah puisi karya Triyanto
Triwikromo yang dibaca dengan baik.
Setelah pembedahan selesai maka acara pun ditutup oleh Pesan
dan kesan Triyanto Triwikromo yang terharu karena karyanya yang dikemukakan
dimuka umum. Jadi lebih dikenal lagi oleh orang lain. Dengan perjalanan 30
Tahun sebagai pengarang, hingga sekarang
masih tetap menjadi seorang sastrawan yang belum pengsiun. Semoga karya bapak
Triyanto Triwikromo menjadi inspirasi bagi kalangan masyarakat yang di
Indonesia dan diluar Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)