Minggu, 03 September 2017

PERTEMUAN TERAKHIR

Tidak ada yang berubah di cafe itu.
Masih tertata rapih kursi-kursi dan meja yang saling berhadapan.
Akan kah kau datang  ke cafe ini untuk menemuiku ?
Sudah hampir 3 jam aku menunggu di tempat ini.
Sampai secangkir espresso yang aku pesan sudah habis aku minum.
Namun ragamu tak kunjung datang .

Apa harus aku tinggalkan saja cafe ini dan pergi begitu saja ? "Tidak."
Aku akan tetap pergi,
Namun tidak pergi begitu saja.
Aku pergi dengan meninggalkan catatan kecil untukmu.
Aku harap kamu akan membacanya.
Saat tidak ada aku di cafe ini.

Mungkin sudah harus aku lupakan dan melepasmu.
Bukan aku tak bisa menunggu untuk menemuimu.
Namun kau saja masih tidak jelas dengan keberadaannya.
Terkadang kau datang menyapa aku.
Lalu lenyap begitu saja tanpa menjawab yang aku ucapkan.

Selasa, 03 Januari 2017

SEMARAK BULAN BAHASA


Oleh: Aulia Salsabila/ 3D/ 15410150
            Seluruh Mahasiswa FPBS Universitas PGRI Semarang memperingati Puncak Bulan Bahasa dengan mengadakan Festival Budaya di Balairung Universitas PGRI Semarang pada hari Kamis 27 Oktober 2016 dengan memakai pakaian adat daerah. Kehadiran rektor Universitas PGRI Semarang sekaligus membuka acara Festival Budaya Bulan Bahasa oleh Dr. H. Muhdi, SH., M.Hum. dan juga kehadiran Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Tak hanya itu acara tersebut mengadakan perlombaan tari kreasi yang diikuti oleh seluruh mahasiswa FPBS. Semarak kemeriahan yang terlihat dari acara tersebut membuat mahasiswa dan dosen menjadi bergembira. Peserta tari kreasi yang diikuti sebanyak 27 peserta dengan membawakan tarian daerah yang kreatif dan juga pakaian yang unik membuat para juri terkesima.
            Dalam kegiatan tersebut setiap tim menampilkan berbagai tari tradisional mulai dari Saman, Reog, Gambyong, hingga Topeng Ireng. Dengan 27 peserta mahasiswa yang mengikuti lomba, terpilihlah 6 peserta yang mendapatkan skor tertinggi diantaranya mendapatkan juara umum dan juga juara 1, 2, dan 3. Bagi saya semua penampilan tari kreasi sangat kreatif tak hanya itu ada salah satu peserta yang membawakan tari reog ponorogo membuat penonton menjadi heboh karena membawakan ciri khas dari tari reog tersebut, mahasiswa juga mampu membawa barongan yang beratnya puluhan kilogram.
            Pada keesokan harinya yaitu pada Tanggal 28 Oktober 2016 bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Mahasiswa Universitas PGRI Semarang mengadakan orasi di halaman Gedung Umum. Mahasiswa yang menyuarakan orasinya tentang  perubahan bagi para pemuda dan juga menjadi para pemuda yang aktif dalam hal positive dan juga pemuda yang kreatif. Tak hanya itu para mahasiswa bergantian untuk ber orasi menyuarakan orasi yang positive. Bagi yang tak ber orasi bisa juga mahasiswa menulis catatan pada kertas berwarna yang sudah disediakan oleh salah satu panitia, isi kertas tersebut berupa pesan untuk para pemuda generasi penerus bangsa yang kedepannya bisa menjadi contoh yang baik bagi semuanya.
            Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
            Istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Berikut ini adalah bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen.
Isi dari Sumpah Pemuda yang dibacakan pada 28 Oktober 1928:
Pertama : Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
            Sedikit cerita, bahwa rumusan Kongres Sumpah Pemuda ini ditulis oleh Muhammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.
            Pada malam harinya mengadakan event parade dan penampilan teater gema yang ikut memperingati hari Sumpah Pemuda tersebut. Penampilan parade yang meriah dan juga penampilan teater gema yang memukau, membuat penonton yang melihat menjadi terkesima. Bisa dilihat dari nilai nilai yang disampaikan oleh para pemain yang menampilkan aksi pada malam itu.
            Bagi saya sumpah pemuda itu merupakan sebuah janji atau ikrar khusnya bagi para pemuda. Supaya pemuda Indonesia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi pemimpin bagi setiap yang ia geluti. Tentunya merubah tatanan nilai-nilai bangsa yang lebih baik, dan juga menjadi pemuda yang aktif dan kreatif. Menjadikan contoh bagi generasi pemuda yang baik bagi bangsanya. Ikut serta membangun tatanan negara yang semakin maju, supaya tidak kalah dengan negara yang lainnya. Sebagai pemuda yang baik kita harus mencontohkan perilaku yang baik, tata krama yang baik dan juga sopan santun terhadap lawan biacaranya.

            Pesan untuk generasi selanjutnya, supaya Negara Indonesia bisa selalu rukun. Bagi para pemuda supaya tidak terjadi adanya aksi anarkis yang biasa terlihat antar sesama sekolah maupun antar wilayah. Jangan saling adanya bentrok lagi. Kita harus rukun karena negara kita identik dengan persatuan yang aman dan tentram seperti sedia kala.

Jumat, 23 Desember 2016

KEKHAWATIRAN PERTELEVISIAN INDONESIA

TRIBUN JATENG – Sehubungan dengan opini yang dimuat pada tanggal (Jumat, 23 Desember 2016) dengan judul “Ibu, Televisi dan Generasi Internet” Oleh Tri Pujiati (Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Dari Opini yang dimuat, saya sependapat dengan saudari. Bahwa maraknya acara televisi pada beberapa dekade ini yang semakin kesini semakin tidak bermutu, tontonan yang seharusnya tidak ditonton oleh anak-anak tetapi seperti dipaksa untuk ditonton. Karena tidak ada pilihan lain acara yang akan ditonton. Terlebih lagi acara anak-anak yang semakin berkurang. Padahal acara televisi untuk anak-anak sangat diperlukan, terlebih untuk membangun karekter dan psikologi yang harus mendapatkan ajaran yang baik. Jika acara televisi seperti ini terus generasi penerus bangsa akan menjadi rusak. Belum sepatutnya anak-anak dibawah umur menonton acara yang sepatutnya belum diperbolehkan untuk ditonton, seperi : Sinetron, gosip, kekerasan dan sebagainya. Membuat karakter anak menjadi rusak dengan acara yang seperti itu.
Bahwa Perusahaan televisi sekarang hanya mengejar target untuk meningkatkan ratting yang tinggi. Bagi mereka, yang penting diterima oleh masyarakat tanpa memperdulikan efeknya terhadap perkembangan anak. Sungguh miris jika seperti itu adanya.
Tingkat anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berpotensi untuk menirukan adegan atau perbuatan yang dilihat olehnya. Maka untuk mengatasinya, bagi orang tua harus mengawasi saat anak-anaknya untuk menonton televisi. Supaya tontonan yang dilihat tidak berdampak yang buruk. Sudah dikatakan pada opininya bahwa keberadaan orang tua terutama ibu sangat diperlukan untuk menanamkan kesadaran serta menyeleksi acara yang pantas bagi anak-anaknya.
Pada dasarnya televisi itu merupakan informasi yang didapat pada hal yang dilihat melalui televisi tersebut. Karena tak harus dengan surat kabar, majalah, dan lainnya, untuk mengetahui informasi tersebut. Maka dengan televisi seharusnya sudah mendapatkan informasi yang positif, bukan hal negative yang didapat.
Seperti hasil survei yang dikemukaan oleh opini saudari oleh Nielsen Audience Measurement pada 2012 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang menonton televisi mencapai 95%.kemudian disusul Internet dengan 33%, radio 20%, surat kabar 12%, tabloid 6%, dan majalah 5%.
Badan Pusat statistik (BPS) pada tahun 2006 mencatat, penduduk dengan usia di atas 10 tahun yang menonton TV jumlahnya 85,86% dan yang membaca surat kabar 23,46%. Selanjutnya pada tahun 2009, penduduk yang menonton TV mencapai 90,27% dan membaca surat kabar 18,94%. Pada tahun 2012 menunjukkan, penduduk yang menonton TV berjumlah 91,68% dan yang membaca surat kabar berjumlah 17,66%.
Ada beberapa cara supaya penonton tertarik pada acara televisi yang menurut saya tidak menarik, yaitu dengan mengundang artis yang sedang naik daun, atau memerankan tokoh pada sinetron. Dengan mudah masyarakat tertarik untuk menonton acara televisi tersebut.
Dan beberapa beberapa dekade akhir-akhir ini berkurangnya artis cilik yang menanyangkan acara yang khusus untuk usia anak-anak. Dahulu saya ingat ada acara televisi anak tahun 90’an yaitu : “Si Komo” Apakah ada yang masih ingat Si Komo? Program untuk anak-anak yang tayang sekitar tahun 1997 pertama kali muncul di TPI, tayang setiap pagi pukul 08.00 WIB. Tokoh ikonik si Komo ini terinspirasi dari binatang Komodo.
Tayangan ini sangat inspiratif dan edukatif sehingga mendapat pujian dan apresiasi dari Presiden kala itu dan tentunya para orang tua yang sangat tertolong dalam pembentukan karakter anak-anaknya. Tokoh yang sering mengucapkan "weleh…weleh.." ini di Dubbing oleh Kak Seto yang kemudian dikenal hingga saat ini sebagai pemerhati anak.
Coba kita lihat sekarang apakah ada acara yang mendidik seperti acara televisi saat tahun 90’an. Bagi saya semakin kesini semakin berkurang. Mungkin ada, tetapi tidak sebagus yang dahulu. Atau pengemasannya saja yang jaman sekarang semakin maju. tetapi tidak tahu juga sih.
Jadi pertelevisian yang mendidik yang dibutuhkan bagi anak-anak. Supaya mereka mengerti dan memahami acara-acara apa yang pantas untuk ditonton dan tidak. Dan juga perlu adanya dukungan dari KPI yang harus lebih tanggap atas insiden yang tidak baik ini.
Selain dari KPI, peran orangtua pun sangat penting untuk memantau apa saja yang ditonton oleh anak-anak. Khusus pada seorang ibu dituntut untuk lebih aktif memantau anak-anaknya baik siang maupun malam agar tidak terjebak pada acara televisi yang tidak mendidik.
Maka psikologi anak sangat penting untuk kedepannya, supaya menjadi warisan bangsa yang unggul dan berkarakter berbudi luhur. Jika awalnya sudah tercemar dengan hal yang tidak baik maka seterusnya akan seperti itu. Jadi lebih baik dicegah lebih dini ketimbang terlambat untuk ditanganinya.
Pesan dari saya, jadilah penikmat pertelevisian yang bijak. Harus bisa mengetahui porsi tontonan yang kita tonton sesuai usia kita. Jangan sampai salah, jika salah maka yang didapat bukan informasi tetapi hanya kesiasiaan saja yang kita lihat.
Aulia Salsabila.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang.

(24 Desember 2016)

Minggu, 18 Desember 2016

Simbangsiur UN

Ujian Nasional menjadi sesuatu yang mengerikan bagi kalangan pelajar, maka dari itu menurut saya Ujian Nasional sebaiknya diubah atau digantikan dengan evaluasi yang sepadan dengan pembelajaran yang diampuh oleh siswa. Jadi siswa tidak was-was saat menghadapi ujian akhir. Karena saya sudah merasakan perasaan was-was saat menghadapi Ujian Nasional. Harus menambah jam belajar dirumah maupun jam tambahan disekolah. Tak hanya itu, jadwal ujian nasional yang diadakan hanya tiga hari tidak sepadan dengan pembelajaran siswa yang diampuh sampai bertahun-tahun tetapi penentuannya diadakan hanya tiga hari saja. Ini merasa tidak adil. walaupun persiapan sudah direncanakan berbulan-bulan sebelum ujian dimulai.

Lebih baik setiap sekolah mengadakan ujian tiap mata pelajaran supaya siswa bisa mempelajari semuanya, bukan seperti pada ujian nasional yang diujikan hanya 3 atau 4 mata pelajaran saja.Lalu tingkat soalnya pun harus sesuai dengan tiap sekolah itu sendiri. karena setiap sekolah tingkat kompetensinya berbeda-beda. karena penentu kelulusan sebenarnya dari sekolah itu sendiri bukan dari pemerintah.
(Aulia Salsabila, 3D PBSI)

Kamis, 15 Desember 2016

LINGUISTIK FUNGSIONAL SISTEMIK

Aliran ini diperkenalkan oleh salah seorang murid Firth yang mengembangkan teori Firth mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dangan segi masyarakat bahasa, yaitu M.A.K. Halliday. Sebagai penerus Firth dan berdasarkan karangannya Categories of the Theory of Grammar, maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian Linguistics atau Skala dan Kategori Linguistik. Namun, kemudian ada nama baru, yaitu Systemic Linguistics atau Linguistik Sistemik.

Teori linguistik fungsional, apapun sebutan yang ada, teori ini tidak bisa lepas dari seseorang yang bernama Michael Alexander Kirkwood Halliday (MAK Halliday) yang telah menemukan dan mengembangkan teori kebahasaan tersebut. Ia merupakan salah seorang murid dari Firth, seorang ahli bahasa yang mengembangkan aliran Firth, guru besar di Universitas London, dimana Halliday belajar.
Sebagai penerus Firth dalam bidang kemasyarakatan bahasa serta pada sebuah karangannya Categories of the Theory of Grammar, Halliday mengembangkan suatu teori linguistik, yang mula-mula dikenal sebagai Neo-Firthian Linguistics atau Scale and Categories Linguistics. Namun dikemudian waktu, muncul nama baru untuk teori ini, Systemics Linguistics (dalam bahasa Indonesia disebut Linguistik Sistemik). Karya besar pertamanya tentang masalah tata bahasa adalah "Kategori dari teori tata bahasa", yang diterbitkan dalam jurnal Firman pada tahun 1961 .
Dalam tulisan ini, ia berpendapat untuk empat "kategori fundamental" bagi teori tata bahasa: "Unit", "struktur", "kelas" dan "sistem". Kategori-kategori ini menurutnya adalah "dari urutan tertinggi abstraksi", tapi dibela seperti yang diperlukan untuk "memungkinkan account koheren tentang apa tata bahasa dan tempatnya dalam bahasa" Dalam mengartikulasikan unit 'kategori', Halliday mengusulkan gagasan tentang 'skala peringkat' a. Unit tata bahasa membentuk "hierarki", skala dari "terbesar" ke "terkecil" yang diusulkan sebagai: "kalimat", "klausul", "kelompok / frase", "kata" dan "morfem" .
Linguistik fungsional sistemik (SFL) adalah sebuah pendekatan untuk linguistik yang menganggap bahasa sebagai sistem semiotik sosial. Ini dikembangkan oleh Michael Halliday, yang mengambil gagasan sistem dari gurunya, JR Firth. Sedangkan Firth dianggap sistem untuk merujuk kemungkinan subordinasi struktur, Halliday dalam arti tertentu "dibebaskan" dimensi pilihan dari struktur dan membuat dimensi pokok berbagai teori ini. Dengan kata lain, sedangkan banyak pendekatan untuk linguistik struktur deskripsi tempat dan sumbu sintagmatik di latar depan, Hallidean teori fungsional sistemik mengadopsi sumbu paradigmatik sebagai titik tolak. Istilah sistemik sesuai foregrounds Saussure "poros paradigmatik" dalam memahami bagaimana bahasa bekerja. Untuk Halliday, prinsip teoritis sentral kemudian bahwa setiap tindakan komunikasi melibatkan pilihan. Bahasa adalah sistem, dan pilihan yang tersedia di setiap berbagai bahasa dipetakan menggunakan alat representasi dari "jaringan sistem". Michael Halliday, yang mendirikan linguistik fungsional sistemik.

Linguistik fungsional sistemik juga "fungsional" karena menganggap bahasa telah berevolusi di bawah tekanan fungsi tertentu bahwa sistem bahasa harus melayani. Oleh karena itu fungsi yang diambil telah meninggalkan jejak mereka pada struktur dan organisasi bahasa di semua tingkatan, yang dikatakan dicapai melalui metafunctions. Term metafunction ini khusus linguistik fungsional sistemik. Organisasi kerangka fungsional di sekitar sistem, yaitu, pilihan, perbedaan yang signifikan dari lainnya pendekatan "fungsional", seperti, misalnya, tata bahasa fungsional Dik ini (FG, atau seperti sekarang sering disebut, fungsional wacana tata bahasa) dan tata bahasa fungsional leksikal.

HOW TO MAKE CHEESE CHOCOLATE SANDWICH

Ingredients :

-          2 Sliced bread
-          Condensed milk chocolate
-          Meses chocolate
-          Grated Cheese

Steps:

-          First, place two slices of bread on a plate.
-          Second, pour the condensed milk chocolate on two slices of bread.
-          Then, sprinkle with grated cheese and meses.
-          Then, stack into a sandwich
-          Sliced into two pieces of bread.

-          Finaly, cheese chocolate sandwich are ready to serve.

Senin, 31 Oktober 2016

SASTRA YANG TAK PERNAH PADAM

3Buku, 3 Kritikus, 3 Pembaca, 1 Pengarang.
Oleh: Aulia Salsabila/3D/PBSI/15410150
            Pada hari Rabu tanggal 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan UPGRIS Bersastra dengan mengadakan bedah dan pembacaan karya Triyanto Triwikromo untuk merayakan Bulan Bahasa. Dengan judul 3 Buku, 3 Kritikus, 3 Pembaca, 1 Pengarang. Acara tersebut di isi oleh pembacaan puisi oleh Rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi, S.H., M.Hum. Wakil rektor 1 Dra. Sri Suciati, M.Hum, dan kelompok musik Biscuittime. Tak hanya itu acara tersebut dihadiri Ketua Dekan FPBS Dra. Asropah, M.Pd. Selain itu di isi diskusi yang di isi oleh pakar posmodern Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo Utomo, dan pegiat buku Widyanuari Eko Putra. Bedah dan pembacaan karya Triyanto Triwikromo ini dimoderatori oleh kritikus sastra Harjito.
            Singkat perjalanan hidupnya Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, 15 September 1964. Lulus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Semarang. Sebelum sebagai seorang sastrawan beliau pernah bekerja sebagai guru. Di samping bekerja sebagai redaktur sastra di harian Suara merdeka Semarang, dia juga menulis cerpen di Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaharuan, Matra, Bernas, Jawa Pos, Pelita, Suara Merdeka, dan Republika.
            Selain sebagai seorang penulis, dia kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra. Antara lain menjadi pembicara dalam “Pertemuan Teater Indonesia 1998” di Yogyakarta, mengikuti “Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997” di Padang, dan menjadi aktivis Gerakan Revitalisasi Sastra Perdalaman.
            Beliau juga pernah membuat naskah sinetron yang berjudul Anak-Anak Mengasah Pisau yang digarap sutradara Dedi Setiadi. Pada tahun 1989 beliau dinobatkan sebagai penyair terbaik majalah Gadis. Tahun 1990 beliau dinyatakan sebagai salah seorang penyair terbaik versi Dirjen Kesenian RI. ''Mata Sunyi Perempuan Takroni'' terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas 2002.
KARYA Triyanto Triwikromo:
Cerpenis yang dikatagorikan Korri Layun Rampan ke dalam “Angkatan 2000” ini beberapa cerpennya dianalogikan bersama cerpenis lain dalam:
1. Panorama Dunia Keranda (1991),
2. Kasidah Jalan Raya (1992),
3. Kicau Kepodang I (1993),
4. Ritus (1995),
5. Negeri Bayang-Bayang (1996),
6. Gerbong: Antologi Puisi dan Cerpen Indonesia Modern (1998),
7. Pintu Tertutup Salju (2000 bersama Herlina Solehan),
8. Rezim Seks dan Ragaula (2002),
9. Children Sharpening the Knives (2003),
10. kumpulan cerpen Sayap Anjing (2003).
Kumpulan Cerpen Terbarunya dibuat dalam dwibahasa (Inggris-Indonesia)
Cerpen-cerpen beliau antara lain,
1. “Tujuh Belas Agustus, Tampa Tahun” (1991),
2. “Monumen” (1991),
3. “Ritus Penyalipan” (1992),
4. “Labirin Kesunyian” (1992),
5. “Sepanjang Waktu dalam Penyalipan-Mu” (1993),
6. “Litani Kebinasaan”, (1993),
7. “Ninabobo Televisi” (1996),
8. “Cinta Tak Mati-Mati” (1997),
9. “Masuklah ke Telingaku Ayah” (1999),
10. “Mata Sunyi Perempuan Takroni” (2002),
11. “Sepasang Anjing Sepasang Cermin” (2002),
12. “Cermin Pasir” (2002),
13. “Sunyi Merambat Seperti Ular” (2002),
14. “Morgot” (2002),
15. “Ikan Asing dari Weipa – Nappranum” (2002),
16. “Cermin Pasir” (2002),
17. “Cinta Sepasang Kupu-Kupu” (2003),
18. “Genjer” (2003),
19. “Malam Sepasang Lampion” (2003),
20. “Cutdacraeh” (2003),
21. “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah” (2003),
22. “Sayap Anjing” (2003),
23. “Aku, Ular, Surga Terakhirmu” (2003),
24. “Angin dari Ujung Angin” (2004),
25. “Malaikat Kakus” (2005),
26. “Sayap Kabut Sultan Ngamid” (2005),
27. “Lumpur Kuala Lumpur” (2005),
28. “Malaikat Tanah Asal” (2006),
29. “Belenggu Salju” (2007),
30. “Badai Bunga” (2007), dan
31. “Matahari Musim Dingin” (2007).

            Saat acara akan dimulai para mahasiswa FPBS sudah berkumpul di Balairung Universitas PGRI Semarang dengan suka cita. Dengan suasana hikmat acarapun dimulai. Sebelum bapak rektor membuka acara, kelompok musik Biscuittime menampilkan 3 buah lagu. Setelah selesai menampilkan beberapa lagu barulah rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi, S.H., M.Hum membuka acara 3 Buku, 3 Kritikus, 3 Pembaca, 1 Pengarang. Tak lama setelah pembukaan, barulah puisi karya Triyanto Triwikromo yang berjudul Takziah dibaca oleh Bapak Rektor Dr. Muhdi, S.H., M.Hum dan puisi yang kedua yang berjudul Mereka Memalsukan Kisahku. Kedua puisi yang dibaca oleh Rektor Universitas PGRI Semarang menjadi sorotan oleh mahasiswa dan tamu undangan yang hadir. Tak menyangka bahwa ada suatu kejutan yang ditampilkan oleh bapak rektor yaitu dengan menampilkan nyanyian dengan iringan gitar sendiri. Seluruh yang hadir pada saat itu terkesima. Ternyata Rektor Universitas PGRI Semarang memiliki bakat terpendam yaitu bergitar sambil bernyanyi.
            Setelah itu Wakil Rektor 1 Dra. Sri Suciati, M.Hum. membacakan puisi karya Triyanto Triwikromo dengan judul Selir Musim Panas. Dengan penampilan cara membaca puisi yang berbeda dengan nada nembang  jawa yang berduet dengan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris. Membuat bulu kuduk kami semakin terasa karena suara Wakil Rektor 1 Ibu Suci yang sangat merdu. Semua hadirin bertepuk tangan karena penampilan yang sangat memukau. Lalu penampilan kedua oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang menampilkan membaca puisi karya Triyanto Triwikromo. Dan menampilkan suatu Drama dengan dibacakan puisi-puisin karyanya. Dengan musik dan tata dekorasi yang apik serta penampilan yang menarik membuat semua yang hadir terkesima.
            Diskusi dan pembedahan 3 buku karya Triyanto Triwikromo pun dimulai, yang diisi oleh pakar posmodern Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo Utomo, dan pegiat buku Widyanuari Eko Putra. Bedah dan pembacaan karya Triyanto Triwikromo ini dimoderatori oleh kritikus sastra Harjito. Cerpenis S Prasetyo Utomo pun  membacakan sebuah puisi karya Triyanto Triwikromo yang dibaca dengan baik.

Setelah pembedahan selesai maka acara pun ditutup oleh Pesan dan kesan Triyanto Triwikromo yang terharu karena karyanya yang dikemukakan dimuka umum. Jadi lebih dikenal lagi oleh orang lain. Dengan perjalanan 30 Tahun  sebagai pengarang, hingga sekarang masih tetap menjadi seorang sastrawan yang belum pengsiun. Semoga karya bapak Triyanto Triwikromo menjadi inspirasi bagi kalangan masyarakat yang di Indonesia dan diluar Indonesia.