Senin, 08 Oktober 2018

CINTA AYAH KEPADA ANAKNYA




Judul                : Ayah
Penulis             : Andrea Hirata
Penerbit           : Bentang
Cetakan           : I, Mei 2015
Jumlah Halaman : 412 halaman
ISBN               : 978-602-291-102-9

Kasih sayang seorang Ayah sering kita abaikan, terkadang anak tidak mengetahui bahwa kasih sayang Ayah kepada anaknya ternyata begitu besar meski tidak nampak langsung oleh sang anak. Jika kita berpikir lagi perjuangan Ayah untuk mencari rezeki tentu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan untuk memenuhi keinginan sang anak yang terkadang sangat menyusahkan.
Pada buku Novel fiksi Indoneisa yang berjudul “Ayah” ini menceritakan tentang perjuangan seorang laki-laki muda bernama Sabari. Pemuda yang baru saja memasuki bangku SMA, kemudian dipertemukan dengan seorang perempuan yang membuat dia tergila-gila. Marlena namanya, wanita dengan mata yang memesona hati oleh para pemuda terutama bagi Sabari, hingga Sabari sulit untuk melupakannya. Sampai pada akhirnya setelah melewati jalan panjang untuk mendapatkan Marlena, lalu Sabari berhasil menikahinya, namun bukan karena cinta, tapi karena paksaan orang tua Marlena.
Tidak butuh waktu lama, merekapun dikarunia anak laki-laki bernama Zorro, nama aslinya Amiru, seorang anak cerdas. Pada cerita di Novel ini Zorro dipisahkan dari kasih sayang ayahnya yaitu Sabari selama delapan tahun lamanya, samapai Sabari hampir gila. Meski demikian ayah yang merindukan kedatangan anaknya itu tidak jadi gila, karena Amiru telah kembali. Dia tumbuh cerdas seperti Sabari, pandai memainkan kata, membuat untaian puisi yang mampu membelalakan mata para pendengarnya.
Begitulah gambaran cerita yang disajikan dalam novel berjudul “Ayah” ini. Novel yang mengisahkan kasih sayang seorang pemuda yang tumbuh tua dengan cintanya terhadap perempuan yang sama sekali tidak mengharap kehadirannya, hingga cinta dan kasih sayangnya mengalir pada anaknya. Sebuah perjuangan yang mengharukan, antara tekad, keinginan, penolakan, persahabatan dan kasih sayang, bercampur dengan sempurna dalam novel ini. Dengan berlatarkan tempat di belitung, Andrea Hirata mempertahankan keasrian cerita yang dikaitkan dengan tanah kelahirannya.
Tutur yang digunakan dalam novel ini tidak berbelit-belit, pembaca akan dengan mudah memahaminya, asalkan tidak merlewatkan cerita pada tiap bab. Karena cerita yang disajikan diawal memiliki dua tokoh berbeda, namun pada akhirnya tokoh utamanya adalah seorang ayah yaitu Sabari.
Novel ini sangat cocok dinikmati oleh para orang tua dan kaum muda yang sedang siap-siap menjadi orang tua. Bahwa kasih sayang seorang ayah tidak kalah besar dari kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Bahwa cinta itu sebenarnya bukan hanya sekadar kata-kata, atau diindahnya puisi, namun cinta itu butuh tindakan dan kesungguhan untuk mendapatkannya.
Membaca keseluruhan novel ini rasanya pembaca diajak untuk berlompatan dari waktu ke waktu. Kisah masa lalu Amiru, Sabari, dan Marlena terbentang dengan  rinci kemudian ditutup dengan manis di bagian akhir khas Andrea Hirata. Namun, ada beberapa bagian cerita yang terlalu singkat penyelesaiannya sehingga sedikit mengurangi kenikmatan membaca novelnya. Termasuk pembaca sedikit terkecoh dengan penggunaan sudut pandang Zorro dan Amiru dalam kisah ini.
Kelebihan Novel Ayah Karya Andrea Hirata
Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang tidak jauh beda apabila dibandingakn dengan gaya bahsa Andrea Hirata pada buku-buku lainnya. Jika kamu penikmat tulisan Andrea Hirata, maka novel Ayah ini bukanlah sesuatu yang mengecewakan. Justru buku ini membuat pembaca semakin cinta dengan karya-karya Andrea Hirata. Buku ini terbagi dalam bab-bab pendek, sehingga pembaca bisa dengan enak mencicil baca.
Buku ini begitu mendidik, sekaligus menghibur. Mendidik pembaca supaya menjadi manusia yang tahu adat, tahu bagaimana harus menjalani hidup, tahu bagaimana harus memposisikan orang-orang yang ada di sekitar kita, khususnya mereka yang mencintai kita.
Buku ini adalah gambaran sempurna tentang cinta ayah kepada anaknya. Memang tidak begitu mengharukan, namun apa yang terjadi pada Sabari adalah sesuatu yang unik, indah, memilukan, membahagiakan, di waktu yang bersamaan. Lagi-lagi, tentu saja ada momen kita tertawa terpingkal-pingkal ketika membaca tulisan Andrea Hirata. Contohnya pada novel Ayah ini.
Buku ini memiliki keunggulan yang unik dan berbeda dengan novel lainnya, yaitu banyaknya puisi yang dibuat sebagai pelengkap cerita. Kalimat demi kalimat mudah dibaca dan ditulis dengan indah serta bermakna. Setelah membaca buku ini kita dapat mengetahui bahasa daerah belitong yang sebelumnya belum pernah mengetahui, seperti yang dituliskan oleh Andrea ada beberapa kata Belitong kuno yang saat ini jarang sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Misalnya saja, gelaning, hademat, ngayau, dan ketumbi.

Kekurangan Novel Ayah Karya Andrea Hirata
Kekurangan pada novel ini ada beberapa halaman terutama di awal-awal bab, Andrea sebagai penulis sering melakukan pengulangan nama yang tidak  perlu. Misal Ukun suka sama A, B, C, D, dst. Penyebutan nama ini terlalu banyak dan sering diulang. Selain itu, ada pula cerita yang terlalu berliku-liku. Misalnya, menceritakan panjangnya hubungan kekerabatan seseorang. Alur campuran yang membuat para pembaca yang jarang membaca akan kebingungan apabila membaca buku ini secara tidak runtut.

--Aulia Salsabila, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

BERTUALANG DI PULAU INDONESIA




Judul               : Arah Langkah
Penulis             : Fiersa Besari
Penerbit           : Mediakita
Cetakan           : I, Mei 2018
Jumlah Halaman : 300 halaman
ISBN               : 978-979-794-561-9

Patah hati tidak selamanya membuat seseorang untuk bermalas-malasan di rumah atau di kamar sambil mendengarkan lagu galau. Dengan patah hati membuat Fiersa Besari atau akrab disapa Bung ini berkeliling Indonesia. Begitulah alasan Fiersa Besari mengelilingi Indonesia dan yang kemudian ditulis dalam buku Arah Langkah. Buku ini merupakan buku keempat dari Fiersa Besari setelah Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta, dan Catatan Juang.
Cerita bermula dari Sumatera. Bung yang sebelumnya telah memutuskan keluar dari pegawai kantoran demi mengejar keinginannya di bidang musik, lalu jatuh hati kepada Mia, dan mengumpulkan rupiah demi menikahinya, kemudian harus rela dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
Pertemuannya dengan Prem dengan nama asli Anisa Andini. Ia seorang gadis tomboy yang menggemari petualangan, dan memiliki keinginan sama seperti Bung untuk keliling Indonesia, lalu membawa mereka pada petualangan yang banyak mengubah hidup. Bung dan Prem tak pergi hanya berdua, tapi bertiga. Ada sosok laki-laki yang bernama Baduy turut ikut serta. Baduy adalah kawan dari kawannya Prem. Walaupun terdapat tiga tokoh penting, cerita dalam buku ini berpusat pada Bung. Alur yang digunakan adalah maju-mundur dimana setiap cerita perjalanannya akan diselingin masa lalu Bung yang kelam dan untuk memotivasi maka Bung melakukan perjalanan senusantara.
Membaca buku Arah Langkah seperti sedang berkeliling Pulau Sumatera hingga ke Pulau Sulawesi. Membaca obrolan-obrolan ketiganya, dengan masyarakat setempat, dan dengan kawan-kawan lama di dunia nyata dan dunia maya yang baru Bung temui setelah meminta tolong untuk sekadar menumpang tidur atau mengobrol bersama.
Selain cerita keseruan petualangan berkeliling Indonesia, buku setebal 300 halaman ini setiap babnya diakhiri gambar-gambar petualangan Bung dan kedua kawannya. Selain itu, judul dari setiap bab hanya terdiri dari satu kata, dan ditulis dalam format PUEBI. Seperti Salah satu contoh judul “ARKAIS” yang memiliki arti (n) berhubungan dengan masa dahulu atau berciri kuno, tua.
Setiap menyinggahi berbagai tempat pasti Bung berkenalan dengan seorang wanita dan Ia mengagumi wanita tersebut meski hanya sekadar mengagumi saja. Begitupun dengan daerah yang Ia singgahi. Wanita yang di tuliskan di buku ini bernama Lady, Intan, Shinta, Ikar.
Selain itu banyak juga kata yang asing didengar ditelinga namun dalam buku ini ditulis dilengkapi dengan catatan kaki sehingga setelah membaca buku ini akan memperkaya kosakata kita. Pada cerita ini kita dapat mengenal kebudayaan di daerah Sumatera dan Sulawesi. Seperti kepercayaan saat sedang mengambil tuak dari pohon Enau, harus sambil bernyanyi. Jika tidak maka air dalam pohon Enau tak akan keluar. Makanya orang batak biasa bernyanyi lantang.
Buku ini memberikan cerita lain tentang kondisi negeri yang tidak selalu sebagus seperti di layar televise. Meskipun begitu, semua daerah yang disinggahi pada buku ini memiliki cerita yang berbeda-beda, namun di dalam perbedaan itu, cinta dan persahabatan selalu bisa ditemukan.

Kelebihan Novel Arah Langkah
Buku ini mengajarkan kita untuk tidak larut dalam kesedihan, karena di balik kesedihan akan muncul keindahan. Pada buku ini juga dapat kita lihat keindahan pulau Sumatera dan pulau Sulawesi dari gambar-gambar yang di abadikan oleh Bung beserta kawan-kawannya. Jika di baca sampai selesai maka kita akan mengetahui bahwa Bung sangat berkesan bisa menjelajahi berbagai daerah di Pulau sumatera dan Pulan Sulawesi, dan menurut Bung semua tempat yang Ia singgahi memiliki cerita yang berbeda, yang sama hanyalah rasa sakit akan berpisah dari tempat itu. Cerita ini sangat menarik karena di mulai dari judul dan isi cerita menggunakan PUEBI membuat pembaca lebih menambah pengetahuan yang sebelumnya tidak mengetahui.
Kekurangan Novel Arah Langkah
Ada sedikit kekurangan pada cerita Arah Langkah ini, karena akhir cerita di buku ini sangat nanggung. Bagi saya selaku pembaca mengharapkan bahwa akhir cerita dapat melihat Raja Ampat, karena salah satu destinasi akhir perjalanannya. Sangat di sayangkan cerita bersambung di pulau Sulawesi.

--Aulia Salsabila, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

Jumat, 21 September 2018

Mengenal Aulia Salsabila

          Aulia Salsabila, teman-teman biasa memanggil salsa atau caca , mungkin kalau sebutan caca kurang cocok dengan nama saya. Nama panggilan caca berawal mula dari tetangga rumah, mungkin karena tidak bisa ngomong sasa jadinya caca. Ada juga temen SMA saya memanggil saya dengan sebutan Aul , menurut saya terserah mereka mau memanggil yang mana. Ayah saya bernama Fatkhuro dan Ibu saya bernama Siti Hapsah. Saya anak ke dua dari dua bersaudara, bisa dibilang saya anak bontot. Saya mempunyai kakak laki-laki bernama Faisal Muhammad. Banyak yang bilang kalau saya dan kakak saya tidak begitu mirip dengan wajah saya. Kadang saat sedang pergi berdua dengan kakak saya , banyak yang mengira kalau saya pergi dengan pacar saya. Padahal sebenarnya yang pergi dengan saya adalah kakak saya. Golongan darah saya dan kakak saya juga sama, saya bergolongan darah AB sama seperti kakak saya juga. Golongan AB itu gabungan dari golongan darah Ayah saya “A” dan Ibu saya bergolongan “B” , maka jadilah “AB” . Lumayan rumit juga sih.

             Saya lahir di kota Tegal tepatnya di rumah sakit kardinah kota tegal pada hari Selasa, tanggal 01 Juli 1997. Saya lahir sesar, sebenarnya saya lahir tanggal 30 Juni , karena belum ada kontraksi pada perut ibu saya. Akhirnya saya lahir tanggal 01 Juli tepatnya saat HUT POLWAN. Saya ada sedikit cerita mengenai nama saya yang bernama Aulia Salsabila. Awal saya lahir, ibu saya memberi nama Aulia Dwi Hapsari, karena Ayah saya tidak menyetujuinya maka nama yang awalnya Aulia Dwi Hapsari diganti dengan nama Aulia Salsabila. Aulia Salsabila ini mempunyai arti “Aulia” yang berarti pemimpin dan “Salsabila” yang berarti nama mata air disurga. Mungkin ayah saya memilih nama tersebut karena ingin saya menjadi seorang pemimpin, misalnya kepala sekolah atau dalam forum dan juga bisa masuk surganya allah .

          Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana, ayah saya bekerja sebagai guru smp dikota Tegal, sedangkan Ibu saya bekerja sebagai guru paud dan mengajar TPQ di lingkungan rumah saya. Walaupun bayaran nya tidak sebanyak pegawai pemda tapi saya sangat bersyukur kepada kedua orang tua saya, karena mereka sudah mempunyai pekerjaan yang halal, dan bisa membiayai sekolah saya serta kakak saya hingga kuliah. Kedua Orang tua saya selalu mendidik kami dengan baik dan penuh kasih sayang, serta selalu mengajarkan berbagai hal positif terutama tentang agama. Ayah saya selalu menasehati supaya saya tidak lupa sholat 5 waktu, mengaji,serta berbagai aktivitas yang berhubungan dengan ajaran islam. Dirumah saya terdapat 5 penghuni rumah, diantaranya saya, kakak saya, Ayah,dan Ibu saya, serta nenek saya. Nenek saya yang sudah berumur 80 tahun, alhamdulillah beliau masih diberi kesehatan. Saya harap nenek saya akan selalu sehat hingga saya sukses, khusus nya kedua orang tua saya.

          Hobi saya adalah memasak, saya sangat senang sekali memasak. Awal mula saya menyukainya, saat saya melihat Ibu saya memasak. Saya sesekali membantu Ibu saya memasak, dan menanyai bumbu apa saja yang akan digunakan. Setelah sudah terbiasa membantu Ibu saya memasak, saya mencoba membuat masakan sendiri. Contoh nya saat itu saya membuat ikan lele mangut, awalnya saya hanya sekedar coba-coba. Setelah sudah matang ternyata rasanya cocok . masakan kedua yang menjadi makanan yang disukai orang rumah adalah sambel terasi buatan saya. Menurut orang rumah sambel buatan saya beda dengan sambel buatan orang lain, maka dari itu orang rumah sangat kangen dengan sambel buatan saya.

             Sekarang saya tinggal di brebes, sebelumnya saya pernah tinggal di tegal hanya dua tahun saja tinggal ditegal, lalu saya pindah kedaerah asal Ibu saya di cirebon jawa barat. Tepatnya di desa blender kecamatan karangsembung. Disanah saya menumpang rumah orangtua Ibu saya, hanya sampai empat tahun saja saya tinggal disanah, lalu ayah saya membeli rumah diperumahan griyatama gandasuli brebes. Kebetulan sekali ayah saya mengajar sekolah menengah pertama di daerah tegal, jadi rumah yang baru ini bisa dekat dengan pekerjaan Ayah saya yang sebagai seorang guru ditegal.
Pengalaman saya saat duduk dibangku sekolah dasar, saya bersekolah di SD N 03 Brebes. Saya sangat ingat sekali saat saya sekolah sd Ibu saya selalu menjemput saya dengan menggunakan sepeda. Saya tidak pernah malu , walaupun teman-teman saya banyak yang dijemput dengan kendaraan yang mewah. Jika Ibu saya tidak menjemput saya maka saya pulang berjalan kaki sampai rumah,walaupun jaraknya lumayan jauh. Setelah sudah kelas 4 sd saya berangkat dengan menggunakan sepeda, karena saya tidak mau merepotkan Ibu saya yang harus rela panas-panasan demi saya. Sampai kelas 6 sd saya selalu berangkat dengan menggunakan sepeda. Tepat saat kelas 6 saat itu saya melaksanakan ujian nasional, walau sempat was-was tapi saya optimis akan lulus. Alhamdulillah saya lulus sd dengan nilai yang memuaskan.

                Akhirnya setelah lulus sekolah dasar pada tahun 2009, saya melanjutkan sekolah yang lebih tinggi pada tahun tersebut. Saya memilih melanjutkan di SMP N 1 BREBES. Pada hari pertama saya masuk, saya sangat canggung dikarenakan jumlah siswa yang lebih dari 600 orang tentunya memiliki karakter dan tingkah laku yang beragam. Kebanyakan teman-teman saya melanjutkan SMP N 2 BREBES. Saat itu saya benar-benar mencari teman baru lagi, lalu pertama saya kenal dengan teman baru saya yang bernama khofidoh dia satu bangku dengan saya. saya sangat akrab sekali dengan nya. Tetapi kelas 8 saya tidak sekelas dengan nya,walaupun tidak sekelas tetapi saya dengan dia masih menjaga komunikasi. Setelah kelas 9 smp adalah penentuan kelulusan, saya benar-benar cemas karena persyaratan kelulusan yang ketat dan mata pelajarannya pun agak banyak dari sd. Maka dari itu sebelum saya masuk dibangku kelas 9 saya sudah mempersiapkan materi yang akan digunakan untuk ujian nasional. Maka tepat hari intinya saya sudah siap untuk mengerjakan ujian nasional. Alhamdulillah saya lulus SMP dengan nilai yang memuaskan.

           Setelah lulus SMP pada tahun 2013, saya melanjutkan sekolah SMA pada tahun tersebut. Saya memilih melanjutkan di SMA N 3 BREBES, sebelumnya saya ingin bersekolah di SMA 4 Tegal tetapi karena terbatasnya kendaraan dan jaraknya lumayan jauh. Akhirnya saya memilih yang dekat saja, yang kedua karena ibu saya menyuruh saya sekolah disitu. Pada angkatan saya, SMA saya sangat maju sekali. Dari kejuaraan perlombaan, mulai dari ekskul pmr, tonsus, pramuka, dll. Saya sangat bangga sekali karena pada angkatan saya sekolah saya lebih bagus. Pada waktu SMA saya mengikuti eksul pmr, dari situ saya belajar banyak. Mulai dari cara-cara menolong orang pingsan, pertolongan pertama (PP), dan masih banyak lagi. Saya mengikuti eksul pmr ini sampai saya kelas tiga SMA. Berkat pengalaman ini saya bisa mengetahui cara-cara menolong orang , jika ada suatu kejadian. Suatu ketika ada perlombaan pmr tingkat kabupaten. Alhamdulillah sma saya mendapatkan juara 2 . Saya merasa bangga karena ilmu yang saya dapatkan bisa bermanfaat juga, semoga saja ilmu pmr ini bisa bermanfaat untuk semua nya.

         Pada tahun 2015 bulan April di kelas tiga SMA saya melaksanakan ujian nasional (UN) tepatnya pada tanggal 15 April 2015. Saya ketakutan menghadapi ujian ini, karena ini merupakan ujian yang menentukan masa depan saya. oleh itu saya sangat bersungguh-sungguh saat belajar. Saya kurangi berpergian dengan teman-teman, mengurangi kegiatan yang tidak penting juga. Karena saya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya yang telah bersusah payah menyekolahkan saya sampai sekarang. Yang selalu menyayangi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu saya saya harus memberikan yang terbaik untuk mereka, terutama pada ibu yang telah mengandung saya selama 9 bulan dengan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anaknya. Yang telah menyusui dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang. Yang mana sampai saat ini saya tidak akan bisa membalas semua itu. Tapi saya akan lakukan yang terbaik untuk membalas semua jasa yang telah diberikan kepada saya dan saya anggap jasa yang telah diberikan selama ini kepada saya merupakan hutang yang harus saya lunasi kepadanya.

             Setelah ujian nasional selesai diselenggarakan, Pada tanggal 15 mei 2015. Yang mana pada hari  itu kelulusan saya diumumkan lewat sebuah amplop dari sekolah. Sebelum saya menerima amplop tersebut saya berdo’a di dalam hati agar diberi kelulusan dengan nilai yang sesuai kemampuan saya. Saya merasa takut, cemas namun saya penasaran untuk membukanya, jantung saya mulai berdebar kencang. Setelah saya buka amplopnya, alhamdulillah tertulis bahwa saya saya dinyatakan lulus. Saya sangat bersyukur sekali,lalu saya bersujud syukur, dan menangis bahagia. Setelah itu setelah kelulusan, saya sangat ingin sekali kuliah. saya mencoba mendaftar SNMPTN dan SBMPTN, tetapi saya tidak lolos. Setelah itu saya mendapat info dari teman saya, dan mengajak saya untuk mendaftar di Universitas PGRI SEMARANG. Kebetulan Ayah saya menyetujui saya sekolah diluar kota, lalu saya dan teman saya mendaftar melalui online, dan seminggu kemudian saya dan teman saya mengikuti tes tertulis langsung di kampus universitas pgri semarang. Waktu itu saya memilih jurusan pendidikan bahasa dan sastra indonesia dan pilihan kedua Bimbingan dan konseling. Alhamdulillah saya diterima di jurusan pendidikan bahasa dan sastra indonesia di universitas pgri semarang. Tepat sekali sesuai keinginan ayah saya, karena ayah saya ingin saya menjadi seorang guru terutama guru bahasa indonesia.

          Sekarang saya sudah semester 7 dan satu semester lagi untuk menyelesaikan masa kuliah saya di Universitas PGRI Semarang. Saya tidak menduga bahwa saya sudah berada di akhir masa kuliah saya. Mengingat bahwa tahun 2015 saya baru saja masuk kuliah, dan saya sudah melewati tahap-tahap yang sebelumnya sempat khawatir apakah saya bisa menghadapinya atau sebaliknya. Alhamdulillah saya sudah menghadapi kekhawatiran saya. Ada dua lagi yang harus saya hadapi yaitu KKN dan skripsi. Saya selalu berdoa untuk diberi kemudahan dan kelancaran untuk belajar di UPGRIS. Saya merasa senang karena saat selama kuliah saya mendapat ilmu yang tidak saya jelaskan bahwa saya bersyukur bisa berkuliah di UPGRIS. Mungkin cukup bagi saya untuk mengenal sepintas tentang saya. Jika ingin mengenal lebih, bisa bertanya ke twitter saya @auliasalbila. Terima kasih. Salam :) 

Minggu, 03 September 2017

PERTEMUAN TERAKHIR

Tidak ada yang berubah di cafe itu.
Masih tertata rapih kursi-kursi dan meja yang saling berhadapan.
Akan kah kau datang  ke cafe ini untuk menemuiku ?
Sudah hampir 3 jam aku menunggu di tempat ini.
Sampai secangkir espresso yang aku pesan sudah habis aku minum.
Namun ragamu tak kunjung datang .

Apa harus aku tinggalkan saja cafe ini dan pergi begitu saja ? "Tidak."
Aku akan tetap pergi,
Namun tidak pergi begitu saja.
Aku pergi dengan meninggalkan catatan kecil untukmu.
Aku harap kamu akan membacanya.
Saat tidak ada aku di cafe ini.

Mungkin sudah harus aku lupakan dan melepasmu.
Bukan aku tak bisa menunggu untuk menemuimu.
Namun kau saja masih tidak jelas dengan keberadaannya.
Terkadang kau datang menyapa aku.
Lalu lenyap begitu saja tanpa menjawab yang aku ucapkan.

Selasa, 03 Januari 2017

SEMARAK BULAN BAHASA


Oleh: Aulia Salsabila/ 3D/ 15410150
            Seluruh Mahasiswa FPBS Universitas PGRI Semarang memperingati Puncak Bulan Bahasa dengan mengadakan Festival Budaya di Balairung Universitas PGRI Semarang pada hari Kamis 27 Oktober 2016 dengan memakai pakaian adat daerah. Kehadiran rektor Universitas PGRI Semarang sekaligus membuka acara Festival Budaya Bulan Bahasa oleh Dr. H. Muhdi, SH., M.Hum. dan juga kehadiran Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Tak hanya itu acara tersebut mengadakan perlombaan tari kreasi yang diikuti oleh seluruh mahasiswa FPBS. Semarak kemeriahan yang terlihat dari acara tersebut membuat mahasiswa dan dosen menjadi bergembira. Peserta tari kreasi yang diikuti sebanyak 27 peserta dengan membawakan tarian daerah yang kreatif dan juga pakaian yang unik membuat para juri terkesima.
            Dalam kegiatan tersebut setiap tim menampilkan berbagai tari tradisional mulai dari Saman, Reog, Gambyong, hingga Topeng Ireng. Dengan 27 peserta mahasiswa yang mengikuti lomba, terpilihlah 6 peserta yang mendapatkan skor tertinggi diantaranya mendapatkan juara umum dan juga juara 1, 2, dan 3. Bagi saya semua penampilan tari kreasi sangat kreatif tak hanya itu ada salah satu peserta yang membawakan tari reog ponorogo membuat penonton menjadi heboh karena membawakan ciri khas dari tari reog tersebut, mahasiswa juga mampu membawa barongan yang beratnya puluhan kilogram.
            Pada keesokan harinya yaitu pada Tanggal 28 Oktober 2016 bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Mahasiswa Universitas PGRI Semarang mengadakan orasi di halaman Gedung Umum. Mahasiswa yang menyuarakan orasinya tentang  perubahan bagi para pemuda dan juga menjadi para pemuda yang aktif dalam hal positive dan juga pemuda yang kreatif. Tak hanya itu para mahasiswa bergantian untuk ber orasi menyuarakan orasi yang positive. Bagi yang tak ber orasi bisa juga mahasiswa menulis catatan pada kertas berwarna yang sudah disediakan oleh salah satu panitia, isi kertas tersebut berupa pesan untuk para pemuda generasi penerus bangsa yang kedepannya bisa menjadi contoh yang baik bagi semuanya.
            Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
            Istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Berikut ini adalah bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen.
Isi dari Sumpah Pemuda yang dibacakan pada 28 Oktober 1928:
Pertama : Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
            Sedikit cerita, bahwa rumusan Kongres Sumpah Pemuda ini ditulis oleh Muhammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.
            Pada malam harinya mengadakan event parade dan penampilan teater gema yang ikut memperingati hari Sumpah Pemuda tersebut. Penampilan parade yang meriah dan juga penampilan teater gema yang memukau, membuat penonton yang melihat menjadi terkesima. Bisa dilihat dari nilai nilai yang disampaikan oleh para pemain yang menampilkan aksi pada malam itu.
            Bagi saya sumpah pemuda itu merupakan sebuah janji atau ikrar khusnya bagi para pemuda. Supaya pemuda Indonesia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi pemimpin bagi setiap yang ia geluti. Tentunya merubah tatanan nilai-nilai bangsa yang lebih baik, dan juga menjadi pemuda yang aktif dan kreatif. Menjadikan contoh bagi generasi pemuda yang baik bagi bangsanya. Ikut serta membangun tatanan negara yang semakin maju, supaya tidak kalah dengan negara yang lainnya. Sebagai pemuda yang baik kita harus mencontohkan perilaku yang baik, tata krama yang baik dan juga sopan santun terhadap lawan biacaranya.

            Pesan untuk generasi selanjutnya, supaya Negara Indonesia bisa selalu rukun. Bagi para pemuda supaya tidak terjadi adanya aksi anarkis yang biasa terlihat antar sesama sekolah maupun antar wilayah. Jangan saling adanya bentrok lagi. Kita harus rukun karena negara kita identik dengan persatuan yang aman dan tentram seperti sedia kala.

Jumat, 23 Desember 2016

KEKHAWATIRAN PERTELEVISIAN INDONESIA

TRIBUN JATENG – Sehubungan dengan opini yang dimuat pada tanggal (Jumat, 23 Desember 2016) dengan judul “Ibu, Televisi dan Generasi Internet” Oleh Tri Pujiati (Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Dari Opini yang dimuat, saya sependapat dengan saudari. Bahwa maraknya acara televisi pada beberapa dekade ini yang semakin kesini semakin tidak bermutu, tontonan yang seharusnya tidak ditonton oleh anak-anak tetapi seperti dipaksa untuk ditonton. Karena tidak ada pilihan lain acara yang akan ditonton. Terlebih lagi acara anak-anak yang semakin berkurang. Padahal acara televisi untuk anak-anak sangat diperlukan, terlebih untuk membangun karekter dan psikologi yang harus mendapatkan ajaran yang baik. Jika acara televisi seperti ini terus generasi penerus bangsa akan menjadi rusak. Belum sepatutnya anak-anak dibawah umur menonton acara yang sepatutnya belum diperbolehkan untuk ditonton, seperi : Sinetron, gosip, kekerasan dan sebagainya. Membuat karakter anak menjadi rusak dengan acara yang seperti itu.
Bahwa Perusahaan televisi sekarang hanya mengejar target untuk meningkatkan ratting yang tinggi. Bagi mereka, yang penting diterima oleh masyarakat tanpa memperdulikan efeknya terhadap perkembangan anak. Sungguh miris jika seperti itu adanya.
Tingkat anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berpotensi untuk menirukan adegan atau perbuatan yang dilihat olehnya. Maka untuk mengatasinya, bagi orang tua harus mengawasi saat anak-anaknya untuk menonton televisi. Supaya tontonan yang dilihat tidak berdampak yang buruk. Sudah dikatakan pada opininya bahwa keberadaan orang tua terutama ibu sangat diperlukan untuk menanamkan kesadaran serta menyeleksi acara yang pantas bagi anak-anaknya.
Pada dasarnya televisi itu merupakan informasi yang didapat pada hal yang dilihat melalui televisi tersebut. Karena tak harus dengan surat kabar, majalah, dan lainnya, untuk mengetahui informasi tersebut. Maka dengan televisi seharusnya sudah mendapatkan informasi yang positif, bukan hal negative yang didapat.
Seperti hasil survei yang dikemukaan oleh opini saudari oleh Nielsen Audience Measurement pada 2012 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang menonton televisi mencapai 95%.kemudian disusul Internet dengan 33%, radio 20%, surat kabar 12%, tabloid 6%, dan majalah 5%.
Badan Pusat statistik (BPS) pada tahun 2006 mencatat, penduduk dengan usia di atas 10 tahun yang menonton TV jumlahnya 85,86% dan yang membaca surat kabar 23,46%. Selanjutnya pada tahun 2009, penduduk yang menonton TV mencapai 90,27% dan membaca surat kabar 18,94%. Pada tahun 2012 menunjukkan, penduduk yang menonton TV berjumlah 91,68% dan yang membaca surat kabar berjumlah 17,66%.
Ada beberapa cara supaya penonton tertarik pada acara televisi yang menurut saya tidak menarik, yaitu dengan mengundang artis yang sedang naik daun, atau memerankan tokoh pada sinetron. Dengan mudah masyarakat tertarik untuk menonton acara televisi tersebut.
Dan beberapa beberapa dekade akhir-akhir ini berkurangnya artis cilik yang menanyangkan acara yang khusus untuk usia anak-anak. Dahulu saya ingat ada acara televisi anak tahun 90’an yaitu : “Si Komo” Apakah ada yang masih ingat Si Komo? Program untuk anak-anak yang tayang sekitar tahun 1997 pertama kali muncul di TPI, tayang setiap pagi pukul 08.00 WIB. Tokoh ikonik si Komo ini terinspirasi dari binatang Komodo.
Tayangan ini sangat inspiratif dan edukatif sehingga mendapat pujian dan apresiasi dari Presiden kala itu dan tentunya para orang tua yang sangat tertolong dalam pembentukan karakter anak-anaknya. Tokoh yang sering mengucapkan "weleh…weleh.." ini di Dubbing oleh Kak Seto yang kemudian dikenal hingga saat ini sebagai pemerhati anak.
Coba kita lihat sekarang apakah ada acara yang mendidik seperti acara televisi saat tahun 90’an. Bagi saya semakin kesini semakin berkurang. Mungkin ada, tetapi tidak sebagus yang dahulu. Atau pengemasannya saja yang jaman sekarang semakin maju. tetapi tidak tahu juga sih.
Jadi pertelevisian yang mendidik yang dibutuhkan bagi anak-anak. Supaya mereka mengerti dan memahami acara-acara apa yang pantas untuk ditonton dan tidak. Dan juga perlu adanya dukungan dari KPI yang harus lebih tanggap atas insiden yang tidak baik ini.
Selain dari KPI, peran orangtua pun sangat penting untuk memantau apa saja yang ditonton oleh anak-anak. Khusus pada seorang ibu dituntut untuk lebih aktif memantau anak-anaknya baik siang maupun malam agar tidak terjebak pada acara televisi yang tidak mendidik.
Maka psikologi anak sangat penting untuk kedepannya, supaya menjadi warisan bangsa yang unggul dan berkarakter berbudi luhur. Jika awalnya sudah tercemar dengan hal yang tidak baik maka seterusnya akan seperti itu. Jadi lebih baik dicegah lebih dini ketimbang terlambat untuk ditanganinya.
Pesan dari saya, jadilah penikmat pertelevisian yang bijak. Harus bisa mengetahui porsi tontonan yang kita tonton sesuai usia kita. Jangan sampai salah, jika salah maka yang didapat bukan informasi tetapi hanya kesiasiaan saja yang kita lihat.
Aulia Salsabila.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang.

(24 Desember 2016)

Minggu, 18 Desember 2016

Simbangsiur UN

Ujian Nasional menjadi sesuatu yang mengerikan bagi kalangan pelajar, maka dari itu menurut saya Ujian Nasional sebaiknya diubah atau digantikan dengan evaluasi yang sepadan dengan pembelajaran yang diampuh oleh siswa. Jadi siswa tidak was-was saat menghadapi ujian akhir. Karena saya sudah merasakan perasaan was-was saat menghadapi Ujian Nasional. Harus menambah jam belajar dirumah maupun jam tambahan disekolah. Tak hanya itu, jadwal ujian nasional yang diadakan hanya tiga hari tidak sepadan dengan pembelajaran siswa yang diampuh sampai bertahun-tahun tetapi penentuannya diadakan hanya tiga hari saja. Ini merasa tidak adil. walaupun persiapan sudah direncanakan berbulan-bulan sebelum ujian dimulai.

Lebih baik setiap sekolah mengadakan ujian tiap mata pelajaran supaya siswa bisa mempelajari semuanya, bukan seperti pada ujian nasional yang diujikan hanya 3 atau 4 mata pelajaran saja.Lalu tingkat soalnya pun harus sesuai dengan tiap sekolah itu sendiri. karena setiap sekolah tingkat kompetensinya berbeda-beda. karena penentu kelulusan sebenarnya dari sekolah itu sendiri bukan dari pemerintah.
(Aulia Salsabila, 3D PBSI)