Ujian Nasional menjadi sesuatu yang mengerikan bagi kalangan pelajar, maka dari itu menurut saya Ujian Nasional sebaiknya diubah atau digantikan dengan evaluasi yang sepadan dengan pembelajaran yang diampuh oleh siswa. Jadi siswa tidak was-was saat menghadapi ujian akhir. Karena saya sudah merasakan perasaan was-was saat menghadapi Ujian Nasional. Harus menambah jam belajar dirumah maupun jam tambahan disekolah. Tak hanya itu, jadwal ujian nasional yang diadakan hanya tiga hari tidak sepadan dengan pembelajaran siswa yang diampuh sampai bertahun-tahun tetapi penentuannya diadakan hanya tiga hari saja. Ini merasa tidak adil. walaupun persiapan sudah direncanakan berbulan-bulan sebelum ujian dimulai.
Lebih baik setiap sekolah mengadakan ujian tiap mata pelajaran supaya siswa bisa mempelajari semuanya, bukan seperti pada ujian nasional yang diujikan hanya 3 atau 4 mata pelajaran saja.Lalu tingkat soalnya pun harus sesuai dengan tiap sekolah itu sendiri. karena setiap sekolah tingkat kompetensinya berbeda-beda. karena penentu kelulusan sebenarnya dari sekolah itu sendiri bukan dari pemerintah.
(Aulia Salsabila, 3D PBSI)
Minggu, 18 Desember 2016
Kamis, 15 Desember 2016
LINGUISTIK FUNGSIONAL SISTEMIK
Aliran ini diperkenalkan oleh salah
seorang murid Firth yang mengembangkan teori Firth mengenai bahasa, khususnya
yang berkenaan dangan segi masyarakat bahasa, yaitu M.A.K. Halliday. Sebagai
penerus Firth dan berdasarkan karangannya Categories of the Theory of Grammar,
maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian
Linguistics atau Skala dan Kategori Linguistik. Namun, kemudian ada nama baru,
yaitu Systemic Linguistics atau Linguistik Sistemik.
Teori
linguistik fungsional, apapun sebutan yang ada, teori ini tidak bisa lepas dari
seseorang yang bernama Michael Alexander Kirkwood Halliday (MAK Halliday) yang
telah menemukan dan mengembangkan teori kebahasaan tersebut. Ia merupakan salah
seorang murid dari Firth, seorang ahli bahasa yang mengembangkan aliran Firth,
guru besar di Universitas London, dimana Halliday belajar.
Sebagai
penerus Firth dalam bidang kemasyarakatan bahasa serta pada sebuah karangannya
Categories of the Theory of Grammar, Halliday mengembangkan suatu teori
linguistik, yang mula-mula dikenal sebagai Neo-Firthian Linguistics atau Scale
and Categories Linguistics. Namun dikemudian waktu, muncul nama baru untuk
teori ini, Systemics Linguistics (dalam bahasa Indonesia disebut Linguistik
Sistemik). Karya besar pertamanya tentang masalah tata bahasa adalah
"Kategori dari teori tata bahasa", yang diterbitkan dalam jurnal
Firman pada tahun 1961 .
Dalam
tulisan ini, ia berpendapat untuk empat "kategori fundamental" bagi
teori tata bahasa: "Unit", "struktur", "kelas"
dan "sistem". Kategori-kategori ini menurutnya adalah "dari
urutan tertinggi abstraksi", tapi dibela seperti yang diperlukan untuk
"memungkinkan account koheren tentang apa tata bahasa dan tempatnya dalam
bahasa" Dalam mengartikulasikan unit 'kategori', Halliday mengusulkan
gagasan tentang 'skala peringkat' a. Unit tata bahasa membentuk
"hierarki", skala dari "terbesar" ke "terkecil"
yang diusulkan sebagai: "kalimat", "klausul",
"kelompok / frase", "kata" dan "morfem" .
Linguistik
fungsional sistemik (SFL) adalah sebuah pendekatan untuk linguistik yang
menganggap bahasa sebagai sistem semiotik sosial. Ini dikembangkan oleh Michael
Halliday, yang mengambil gagasan sistem dari gurunya, JR Firth. Sedangkan Firth
dianggap sistem untuk merujuk kemungkinan subordinasi struktur, Halliday dalam
arti tertentu "dibebaskan" dimensi pilihan dari struktur dan membuat
dimensi pokok berbagai teori ini. Dengan kata lain, sedangkan banyak pendekatan
untuk linguistik struktur deskripsi tempat dan sumbu sintagmatik di latar
depan, Hallidean teori fungsional sistemik mengadopsi sumbu paradigmatik
sebagai titik tolak. Istilah sistemik sesuai foregrounds Saussure "poros
paradigmatik" dalam memahami bagaimana bahasa bekerja. Untuk Halliday,
prinsip teoritis sentral kemudian bahwa setiap tindakan komunikasi melibatkan
pilihan. Bahasa adalah sistem, dan pilihan yang tersedia di setiap berbagai
bahasa dipetakan menggunakan alat representasi dari "jaringan
sistem". Michael Halliday, yang mendirikan linguistik fungsional sistemik.
Linguistik
fungsional sistemik juga "fungsional" karena menganggap bahasa telah
berevolusi di bawah tekanan fungsi tertentu bahwa sistem bahasa harus melayani.
Oleh karena itu fungsi yang diambil telah meninggalkan jejak mereka pada
struktur dan organisasi bahasa di semua tingkatan, yang dikatakan dicapai
melalui metafunctions. Term metafunction ini khusus linguistik fungsional
sistemik. Organisasi kerangka fungsional di sekitar sistem, yaitu, pilihan,
perbedaan yang signifikan dari lainnya pendekatan "fungsional",
seperti, misalnya, tata bahasa fungsional Dik ini (FG, atau seperti sekarang
sering disebut, fungsional wacana tata bahasa) dan tata bahasa fungsional
leksikal.
HOW TO MAKE CHEESE CHOCOLATE SANDWICH
Ingredients :
-
2 Sliced bread
-
Condensed
milk chocolate
-
Meses
chocolate
-
Grated
Cheese
Steps:
-
First,
place two slices of bread on a plate.
-
Second,
pour the condensed milk chocolate on two slices of bread.
-
Then,
sprinkle with grated cheese and meses.
-
Then,
stack into a sandwich
-
Sliced
into two pieces of bread.
-
Finaly,
cheese chocolate sandwich are ready to serve.
Senin, 31 Oktober 2016
SASTRA YANG TAK PERNAH PADAM
3Buku, 3
Kritikus, 3 Pembaca, 1 Pengarang.
Oleh:
Aulia Salsabila/3D/PBSI/15410150
Pada
hari Rabu tanggal 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan UPGRIS
Bersastra dengan mengadakan bedah dan pembacaan karya Triyanto Triwikromo untuk
merayakan Bulan Bahasa. Dengan judul 3 Buku, 3
Kritikus, 3 Pembaca, 1 Pengarang. Acara tersebut di isi oleh pembacaan puisi
oleh Rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi, S.H., M.Hum. Wakil rektor 1
Dra. Sri Suciati, M.Hum, dan kelompok musik Biscuittime. Tak hanya itu acara
tersebut dihadiri Ketua Dekan FPBS Dra. Asropah, M.Pd. Selain itu di isi
diskusi yang di isi oleh pakar posmodern Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo
Utomo, dan pegiat buku Widyanuari Eko Putra. Bedah dan pembacaan karya Triyanto
Triwikromo ini dimoderatori oleh kritikus sastra Harjito.
Singkat perjalanan hidupnya Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, 15 September 1964. Lulus
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Semarang. Sebelum
sebagai seorang sastrawan beliau pernah bekerja sebagai guru. Di samping
bekerja sebagai redaktur sastra di harian Suara merdeka Semarang, dia juga
menulis cerpen di Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaharuan,
Matra, Bernas, Jawa Pos, Pelita, Suara Merdeka, dan Republika.
Selain
sebagai seorang penulis, dia kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra.
Antara lain menjadi pembicara dalam “Pertemuan Teater Indonesia 1998” di
Yogyakarta, mengikuti “Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997” di Padang, dan
menjadi aktivis Gerakan Revitalisasi Sastra Perdalaman.
Beliau
juga pernah membuat naskah sinetron yang berjudul Anak-Anak Mengasah Pisau yang
digarap sutradara Dedi Setiadi. Pada tahun 1989 beliau dinobatkan sebagai
penyair terbaik majalah Gadis. Tahun 1990 beliau dinyatakan sebagai salah
seorang penyair terbaik versi Dirjen Kesenian RI. ''Mata Sunyi Perempuan
Takroni'' terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas 2002.
KARYA Triyanto
Triwikromo:
Cerpenis yang
dikatagorikan Korri Layun Rampan ke dalam “Angkatan 2000” ini beberapa
cerpennya dianalogikan bersama cerpenis lain dalam:
1. Panorama Dunia Keranda (1991),
2. Kasidah Jalan Raya (1992),
3. Kicau Kepodang I (1993),
4. Ritus (1995),
5. Negeri Bayang-Bayang (1996),
6. Gerbong: Antologi Puisi dan Cerpen Indonesia Modern (1998),
7. Pintu Tertutup Salju (2000 bersama Herlina Solehan),
8. Rezim Seks dan Ragaula (2002),
9. Children Sharpening the Knives (2003),
10. kumpulan cerpen Sayap Anjing (2003).
1. Panorama Dunia Keranda (1991),
2. Kasidah Jalan Raya (1992),
3. Kicau Kepodang I (1993),
4. Ritus (1995),
5. Negeri Bayang-Bayang (1996),
6. Gerbong: Antologi Puisi dan Cerpen Indonesia Modern (1998),
7. Pintu Tertutup Salju (2000 bersama Herlina Solehan),
8. Rezim Seks dan Ragaula (2002),
9. Children Sharpening the Knives (2003),
10. kumpulan cerpen Sayap Anjing (2003).
Kumpulan
Cerpen Terbarunya dibuat dalam dwibahasa (Inggris-Indonesia)
Cerpen-cerpen beliau antara lain,
1. “Tujuh Belas Agustus, Tampa Tahun” (1991),
2. “Monumen” (1991),
3. “Ritus Penyalipan” (1992),
4. “Labirin Kesunyian” (1992),
5. “Sepanjang Waktu dalam Penyalipan-Mu” (1993),
6. “Litani Kebinasaan”, (1993),
7. “Ninabobo Televisi” (1996),
8. “Cinta Tak Mati-Mati” (1997),
9. “Masuklah ke Telingaku Ayah” (1999),
10. “Mata Sunyi Perempuan Takroni” (2002),
11. “Sepasang Anjing Sepasang Cermin” (2002),
12. “Cermin Pasir” (2002),
13. “Sunyi Merambat Seperti Ular” (2002),
14. “Morgot” (2002),
15. “Ikan Asing dari Weipa – Nappranum” (2002),
16. “Cermin Pasir” (2002),
17. “Cinta Sepasang Kupu-Kupu” (2003),
18. “Genjer” (2003),
19. “Malam Sepasang Lampion” (2003),
20. “Cutdacraeh” (2003),
21. “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah” (2003),
22. “Sayap Anjing” (2003),
23. “Aku, Ular, Surga Terakhirmu” (2003),
24. “Angin dari Ujung Angin” (2004),
25. “Malaikat Kakus” (2005),
26. “Sayap Kabut Sultan Ngamid” (2005),
27. “Lumpur Kuala Lumpur” (2005),
28. “Malaikat Tanah Asal” (2006),
29. “Belenggu Salju” (2007),
30. “Badai Bunga” (2007), dan
31. “Matahari Musim Dingin” (2007).
Cerpen-cerpen beliau antara lain,
1. “Tujuh Belas Agustus, Tampa Tahun” (1991),
2. “Monumen” (1991),
3. “Ritus Penyalipan” (1992),
4. “Labirin Kesunyian” (1992),
5. “Sepanjang Waktu dalam Penyalipan-Mu” (1993),
6. “Litani Kebinasaan”, (1993),
7. “Ninabobo Televisi” (1996),
8. “Cinta Tak Mati-Mati” (1997),
9. “Masuklah ke Telingaku Ayah” (1999),
10. “Mata Sunyi Perempuan Takroni” (2002),
11. “Sepasang Anjing Sepasang Cermin” (2002),
12. “Cermin Pasir” (2002),
13. “Sunyi Merambat Seperti Ular” (2002),
14. “Morgot” (2002),
15. “Ikan Asing dari Weipa – Nappranum” (2002),
16. “Cermin Pasir” (2002),
17. “Cinta Sepasang Kupu-Kupu” (2003),
18. “Genjer” (2003),
19. “Malam Sepasang Lampion” (2003),
20. “Cutdacraeh” (2003),
21. “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah” (2003),
22. “Sayap Anjing” (2003),
23. “Aku, Ular, Surga Terakhirmu” (2003),
24. “Angin dari Ujung Angin” (2004),
25. “Malaikat Kakus” (2005),
26. “Sayap Kabut Sultan Ngamid” (2005),
27. “Lumpur Kuala Lumpur” (2005),
28. “Malaikat Tanah Asal” (2006),
29. “Belenggu Salju” (2007),
30. “Badai Bunga” (2007), dan
31. “Matahari Musim Dingin” (2007).
Saat
acara akan dimulai para mahasiswa FPBS sudah berkumpul di Balairung Universitas
PGRI Semarang dengan suka cita. Dengan suasana hikmat acarapun dimulai. Sebelum
bapak rektor membuka acara, kelompok musik
Biscuittime menampilkan 3 buah lagu. Setelah selesai menampilkan beberapa lagu
barulah rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi, S.H., M.Hum membuka acara 3
Buku, 3 Kritikus, 3 Pembaca, 1 Pengarang. Tak lama setelah pembukaan, barulah
puisi karya Triyanto Triwikromo yang berjudul Takziah dibaca oleh Bapak Rektor Dr.
Muhdi, S.H., M.Hum dan puisi yang kedua yang berjudul Mereka Memalsukan
Kisahku. Kedua puisi yang dibaca oleh Rektor Universitas PGRI Semarang menjadi
sorotan oleh mahasiswa dan tamu undangan yang hadir. Tak menyangka bahwa ada
suatu kejutan yang ditampilkan oleh bapak rektor yaitu dengan menampilkan
nyanyian dengan iringan gitar sendiri. Seluruh yang hadir pada saat itu
terkesima. Ternyata Rektor Universitas PGRI Semarang memiliki bakat terpendam
yaitu bergitar sambil bernyanyi.
Setelah itu Wakil Rektor 1 Dra. Sri Suciati, M.Hum.
membacakan puisi karya Triyanto Triwikromo dengan judul Selir Musim Panas. Dengan
penampilan cara membaca puisi yang berbeda dengan nada nembang jawa yang berduet dengan mahasiswa Pendidikan
Bahasa Inggris. Membuat bulu kuduk kami semakin terasa karena suara Wakil
Rektor 1 Ibu Suci yang sangat merdu. Semua hadirin bertepuk tangan karena
penampilan yang sangat memukau. Lalu
penampilan kedua oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang menampilkan
membaca puisi karya Triyanto Triwikromo. Dan menampilkan suatu Drama dengan
dibacakan puisi-puisin karyanya. Dengan musik dan tata dekorasi yang apik serta
penampilan yang menarik membuat semua yang hadir terkesima.
Diskusi dan
pembedahan 3 buku karya Triyanto Triwikromo pun dimulai, yang diisi oleh pakar
posmodern Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo Utomo, dan pegiat buku Widyanuari
Eko Putra. Bedah dan pembacaan karya Triyanto Triwikromo ini dimoderatori oleh
kritikus sastra Harjito. Cerpenis S Prasetyo Utomo pun membacakan sebuah puisi karya Triyanto
Triwikromo yang dibaca dengan baik.
Setelah pembedahan selesai maka acara pun ditutup oleh Pesan
dan kesan Triyanto Triwikromo yang terharu karena karyanya yang dikemukakan
dimuka umum. Jadi lebih dikenal lagi oleh orang lain. Dengan perjalanan 30
Tahun sebagai pengarang, hingga sekarang
masih tetap menjadi seorang sastrawan yang belum pengsiun. Semoga karya bapak
Triyanto Triwikromo menjadi inspirasi bagi kalangan masyarakat yang di
Indonesia dan diluar Indonesia.
Jumat, 21 Oktober 2016
JAKA YANG MERINDUKAN SANG ISTRI DAN SUMARAH YANG MENCARI KEADILAN
Pada
hari Selasa tanggal 04 Oktober 2016 pukul 15.00 WIB, teater gema telah
mementaskan suatu karya yang hadir di Gedung Pusat Lantai 7. Teater Gema kali
ini akan mementaskan dua karya yang
sangat menarik untuk disaksikan Pementasan yang pertama berjudul Jaka Tarub dan
pementasan kedua berjudul Monolog Balada Sumarah.
Pada pementasan pertama dengan judul
Jaka Tarub. Diawali dengan dekorasi yang apik dengan nuansa pedesaan dengan
rumah gubuk yang mendukung nuansa pedesaannya.Suatu hari ada seorang lelaki
yang tinggal disebuah desa bersama anak gadisnya seorang lelaki tersebut
bernama Jaka Tarub dan anak gadisnya bernama Nawangsih. Pada malam hari saat
itu Jaka Tarub sedang tidur lalu tiba-tiba ia berteriak dan terbangun dari
tidurnya. Ia terbangun karena memimpikan hal yang sama, mimpi tersebut pasti
datang pada saat bulan purnama. Mendengar bapaknya berteriak lalu Nawangsih
langsung berlari menghampiri bapaknya dan menanyakan apa yang terjadi
terhadapnya. Lalu Jaka Tarub menjawab bahwa tidak ada yang terjadi, ia hanya
bermimpi biasa saja. Setelah itu Nawangsih menawarkan air minum kepad bapaknya
supaya bisa lebih enakan, segeralah Nawangsih mengambil air minum untuk
bapaknya. Saat Nawangsih mengambil air minum Jaka Tarub langsung bergumam “Tidak
Mungkin, jangan ambil anakku. Karena dialah satu-satunya yang aku punya.” Saat
itu Nawangsih datang dan bertanya “Apa yang tidak mungkin pak?” dan Jaka
langsung menjawab “Tidak apa-apa anakku”. Sesaat Jaka Tarub mengingat Ibu
Nawangsih, istri Jaka Tarub.
Awal mengenal ibu Nawangsih, ibu
Nawangsih sebenarnya seorang bidadari dari kayangan. Ia bernama Nawang Wulan.
Sebelum mengenal Nawang Wulan, Jaka Tarub selalu dimimpikan oleh sosok yang ia
tidak kenal didalam mimpinya Jaka Tarub akan menikah dengan sosok Bidadari.
Awalnya ia tidak percaya tentang mimpi tersebut tetapi semakin sering mimpi itu
muncul pada saat bulan purnama muncul. Mimpi tersebut langsung diceritakan kepada
Kang Darmo teman Jaka Tarub, dan kang darmo tidak mempercayai lalu menertawakan
dan kang darmo hanya menasehati saja. Setalah itu Jaka Tarub bersiap-siap akan
pergi ke sungai untuk mencari ikan untuk makan siang. Sudah dipersiapkan alat
untuk mencari ikan tersebut.
Sesampai disungai ia melihat ada
wanita cantik, wanita tersebut adalah bidadari yang sedang turun dari kayangan
untuk berendam disungai tempat Jaka Tarub akan mencari ikan. Setelah mendengar
percakapan yang ia dengar dari ke 7 bidadari tersebut, maka Jaka Tarub memiliki
inisiatif untuk mengambil salah satu selendang yang dikenakan oleh bidadari
tersebut. Saat ke 7 bidadari tersebut sedang bermain air, Jaka Tarub
mengendap-endap dari rerumputan dan mengambil sebuah selendang. Setelah ke 7
Bidadari tersebut selesai bermain air lalu semua Bidadari mengambil selendang
dan segera kembali lagi ke kayangan. Tetapi selendang milik salah satu bidadari
tersebut tidak ada. Ialah milik Nawang Wulan yaitu kakak tertua dari ke 7
Bidadari tersebut. Adik-adiknya yang berusaha mencari tetapi tidak ketemu.
Akhirnya Nawang Wulan ditinggal sendirian di dunia dan adik-adiknya pergi
kekayangan. Sesaat mereka pergi kekayangan, Nawang Wulan sempat merasa sedih
karena kenapa sampai selendangnya bisa tiba-tiba hilang. Nawang Wulan saat itu
membutuhkan baju untuk dikenakannya. Dan berucap Jika ada seseorang yang
meberikan ia baju untuknya Entah itu Wanita atau Pria. Jika wanita maka ia akan
jadikan saudara tetapi jika pria ia akan jadikan suaminya. Mendengar perkataan
tersebut Jaka Tarub langsung bersemangat dan langsung pergi kerumah untuk
mengambil baju untuk Nawang Wulan. Setelah membawa baju langsung lah Jaka Tarub
kembali kesungai tersebut dan menghampiri Nawang Wulan. Lalu bertanya kepadanya
“Sedang apa kau wanita cantik menjelang pagi ada ditempat ini? Bukan nya kamu
tadi bilang sedang membutuhkan baju.” Tanya Jaka Tarub kepada Nawang Wulan.
Dijawabnya “Iya saya sedang
membutuhkan baju.” Lalu Jaka Tarub menjawab “wah kebetulan sekali aku bawa baju
ibuku. Mungkin cukup untukmu. Oh iya dengar-dengar jika yang meberikan baju itu
wanita kamu akan jadikan ia saudara. Tetapi jika itu pria akan kamu jadikan
suami? Betul tidak?” Dan Nawang Wulan menjawab “Iya tentu saja betul, karena
saya tidak mengingkari perkataan saya. karena saya seorang bidadari.” Sejenak
Jaka terkejut mendengar ia seorang bidadari. Dan mengingat mimpi yang ia alami
setiap bulan pernama. Lalu diberikan baju itu dan Nawang Wulan pergi kerumah
Jaka dan menikahi Nawang Wulan.
Beberapa bulan kemudia setelah pernikahan,
Nawang Wulan hamil. Saat hidup satu rumah dengan Jaka, Nawang merasa bahagia.
Begitupun dengan Jaka, dan ada satu keheranan Jaka karena beras untuk makan
sehari-hari tidak pernah habis. Bukannya habis tetapi semakin banyak. Sempat
Jaka bertanya dengan istrinya dan istrinya pun menjawab “Mungkin itu karena
hasil kerja kerasmu sehingga menganggapnya beras itu tidak habis malah semakin
banyak. Kita harus bersyukur mas karena telah memiliki kecukupan untuk bisa
makan tanpa merasa kelaparan.” Mendengar perkataan istrinya, Jaka pun
mengangguk dan tersenyum “Iya sayang aku bersyukur sekali dan sangat bersyukur
karena telah memilih istri secantik kamu.” Jawab Jaka sambil mengelus perut
Nawang yang sedang mengandung anak yang hampir melahirkan.
Dua minggu kemudia Nawang Wulan
mengalami kontraksi bahwa pertanda anaknya akan lahir. Lalu segeralah ia
memanggil dukun anak bernama mbok ti. Sesaat kemudian lahirlah bayi cantik
seperti ibunya. Dan ia berinama anak perempuannya yaitu Nawangsih. Nawangsih
sangat cantik seperti ibunya. Kecantikan itu sudah terlihat saat ia lahir.
Suatu hari saat Nawang Wulan akan
pergi sungai untuk pergi mencuci baju, lalu ia titipkan anaknya kepada Jaka dan
menitipkan pesan kepada suaminya supaya untuk menjaga api karena ia sedang
memasak nasi. Tetapi nasi yang ia tanak tidak boleh dibuka tutup pancinya.
Pesan itu ia ucapkan berulang-ulang kepada Jaka. “Iya sayang, aku ingat pesanmu
ko” Jawab Jaka. Sesaat Nawang Wulan pergi kesungai. Jaka pun penasaran kenapa
tidak diperbolehkan untuk melihat atau membuka panci yang berisikan nasi
tersebut. Jika tidak dibuka maka tidak tau apakah nasi tersebut sudah matang
atau belum. “Jika membuka tidak boleh, kalau mengintip pasti boleh lah” Ujar
Jaka. Karena penasaran maka Jaka membuka sedikit tutup panci tersebut. Dan Jaka
pun kaget, karena kenapa isinya hanya satu biji beras saja. Dengan
terheran-heran. “Kenapa bisa begini, jika hanya satu biji tentu tidak akan
kenyang untuk makan aku,istriku dan juga untuk anakku” Ujar Jaka. Saat istrinya
kembali kerumah membawa cucian bersih. Lalu Jaka memanggil istrinya “Sayang
coba kemari, ada yang harus aku bicarakan kepadamu.” Dan Nawang Wulan langsung
menghampiri suaminya “Ada apa suamiku?” langsung saja Jaka menceritakan yang ia
lihat. Dan Nawang Wulan kaget dan kecewa karena ia tidak menempati janji dan
pesannya yang sudah ia sampaikan. Lalu Nawang Wulan masuk ke dalam rumah. Tak
lama ia kembali menghampiri Jaka dan bertanya “Ini apa mas, kenapa selendang
milikku ada didalam rumah. Apakah engkau yang telah mengambil selendang itu?”
sejenak Jaka hanya bisa terdiam dan meminta maaf kepada Nawang. “Hmm jadi
begini sayang...” Nawang pun merasa kesal. “Aku tidak bermaksud seperti itu,
aku melakukan itu karena aku mencintaimu” Ungkap Jaka. “Kenapa kau membohongiku
dan kenapa kau mengingkari janjiku tadi. Karena jika kau membuka tutup pancinya
maka hilanglah kesaktian ku.” Iya aku minta maaf sayang, dan kamu jangan
tinggalkan aku” Jaka memohon kepada istrinya supaya tidak kembali kekayangan.
“Iya
aku memaafkanmu, tetapi aku harus pergi. Karena ini bukan asal ku. Asalku
berada dikayangan.” Ungkap Nawang Wulan. “Tidak nawang, kau harus ada disini.
Kau harus merawat anak ini dan menemani aku.” Ucap Jaka sambil memohon. “Untuk
kewajiban itu pasti aku tidak akan lupan dengan anakku. Setiap bulan purnama
aku datang kesungai itu. Dan akan bertemu anakku tetapi tidak bersama kamu
Jaka.” Ungkap Nawang Wulan.
Sesaat
Nawang Wulan pergi dari muka bumi dan pergi kekayangan. Setelah itu Nawang
Wulan tidak pernah bertemu dengan Jaka Tarub. Tetapi ia selalu dimimpian oleh
Nawang Wulan setiap bulan purnama. Didalam mimpinya bahwa akan membawa anak
perempuannya untuk kekayangan untuk bisa tinggal dengan ibunya. Maka setiap
mengalami mimpi tersebut Jaka hanya bisa berteriak dan bergumam supaya anak
perempuannya tidak dibawa kekayangan. Dari kisah diatas dapat disimpulkan bahwa
cinta tidak boleh saling berkhianat dan jangan menutupi setiap memiliki
masalah. Jujurlah terhadap pasangan kita, sebelum semuanya terlambat. Jika
sampai terlambat maka semuanya akan sirna. Setalah sudah selesai, lalu ditutup
dengan meredupnya lampu sebagai penutup dan berakhirnya cerita Jaka Tarub.
Pada pementasan yang kedua yang
berjudul Monolog Balada Sumarah. Pada pementasan kali ini sangat
begitu menarik karena yang berperan hanya satu orang, yaitu sosok wanita
seperti judulnya. Sumarah ini adalah seorang wanita asal Indonesia yang
merupakan anak dari ayah yang merupakan golongan PKI yang saat itu sedang
buming. Sumarah ini merasa tidak terima diperlakukannya seperti itu,misalnya
dikucilkan dan dijauhi oleh teman-temannya semasa ia sekolah sampai lulus SMA.
Untuk mencari pekerjaan yang layak pun sumarah merasa kesulitan karena ia
adalah anak dari seorang golongan PKI. Padahal saat itu ayahnya tidak mengikuti
PKI. Tetapi kenapa ayahnya bisa termasuk dalam golongan PKI tersebut. Setelah
itu Sumarah nekat untuk mendaftar bekerja diluar negeri atau istilahnya TKW. Ia
mendaftar ke kantor yang mengurus TKW. Supaya administrasi berjalan dengan lancar
maka yang dilakukan ialah dengan jalan belakang dengan adanya uang. Karena
jaman sekarang jika urusan akan lancar maka uang pun juga harus lancar. Acara
ini Sumarah lakukan supaya administrasi bisa diurus tanpa adanya kendala.
Maka pergilah ia ke Arab Saudi,
pikirnya ia disana akan mendapatkan penghasilan yang banyak tetapi ia disana
mendapatkan siksaan terhadap majikannya. Ditambah lagi jika berbuat salah
sedikit ia langsung dianiaya. Dan pada suatu hari Sumarah mendapatkan pelecehan
seksual terhadap majikan pria nya. Ia diperkosa oleh majikannya sendiri.
Sumarah pun merasa kesal terhadap majikannya tersebut. Suatu ketika sumarah
berfikiran untuk membunuh majikannya yang telah memperkosanya. Jelas yang ia
perbuat itu merupakan kejahatan yang dapat merugikannya dan juga pasti akan
mendapatkan hukuman mati yang berlaku di Arab Saudi. Sumarah sudah siap akan
hukuman yang akan diterimanya.
Begitulah nasib TKW kita yang
mendapatkan siksaan dari majikannya. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan
nasib para TKI dan TKW yang berkerja diluar negeri. Karena meraka juga memiliki
HAM yang sepatutnya untuk dilindungi juga dari hukuman yang menimpanya. Dan
juga dari perusahaan yang harus lebih mengketat calon TKI dan TKW yang akan
diperkerjakan diluar negeri supaya komunikasi antar majikan dan juga pekerjanya
bisa lebih terjaga.
Pementasan tersebut ditutup dengan
pemeran yang mengakhiri pementasannya. Sungguh apik sekali yang sudah dibawakan
dari pementasan keduanya. Yang pertama dari pementasan Jaka Tarub dan juga
pementasan Monolog Balada Sumarah.
Rabu, 14 September 2016
Awal Hari Ku
Oleh Aulia Salsabila
Kamis pagi itu aku awali dengan meminum teh hangat
Kamis pagi itu aku awali dengan meminum teh hangat
Dengan aroma melati yang menenangkan pikiranku
Karena sebelumnya pikiran itu selalu terjuru akan dirimu
Teh di pagi hariku ini semoga menjadi pendamping semangatku
Di kala kau tidak berada disampingku
Memang ini terasa sulit untuk dijalani, karena terbatasnya jarak dan waktu
Semoga engkau selalu diberi kelancaran dan diberi lindungan dari Tuhan.
Rabu, 07 September 2016
Falling Slowly by Glen Hansard
I don't know you
But I want you
All the more for that
Words fall through me
And always fool me
And I can't react
And games that never amount
To more than they're meant
Will play themselves out
Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice, you have a choice
You'll make it now
Falling slowly, eyes that know me
And I can't go back
Moods that take me and erase me
And I'm painted black
You have suffered enough
And warred with yourself
It's time that you won
Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice, you have a choice
You've made it now
Falling slowly sing your melody
I'll sing it loud
But I want you
All the more for that
Words fall through me
And always fool me
And I can't react
And games that never amount
To more than they're meant
Will play themselves out
Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice, you have a choice
You'll make it now
Falling slowly, eyes that know me
And I can't go back
Moods that take me and erase me
And I'm painted black
You have suffered enough
And warred with yourself
It's time that you won
Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice, you have a choice
You've made it now
Falling slowly sing your melody
I'll sing it loud
Langganan:
Postingan (Atom)