Rabu, 10 Oktober 2018

Suaramu


Alunan nada suaramu kian terdengar
Bergema hingga hatiku semakin bergetar saat ku mendengarnya
Tak pernah sebelumnya seperti ini
Mendengar suaramu saja aku sudah jatuh cinta
Bagaimana bila ku bertemu langsung denganmu
Mungkin saat ini kita hanya bisa bertemu melalui suara
Memang aneh, jatuh cinta dengan suara yang indah itu

Semarang, Oktober 2018

Selasa, 09 Oktober 2018

Sudah waktunya

Kini bukan tentangmu lagi yang ada dipikiran ku
Mungkin sudah cukup bagiku untuk bilang padamu karna sudah hadir dan bisa mengenalmu.
Walaupun aku tak sempat untuk bertemu denganmu. Untuk mengucapkan kata berpisah untukmu.
Hingga detik ini, mungkin kamu tidak pernah memperdulikan ku
- Aul (Juli,2018)

Senin, 08 Oktober 2018

CINTA AYAH KEPADA ANAKNYA




Judul                : Ayah
Penulis             : Andrea Hirata
Penerbit           : Bentang
Cetakan           : I, Mei 2015
Jumlah Halaman : 412 halaman
ISBN               : 978-602-291-102-9

Kasih sayang seorang Ayah sering kita abaikan, terkadang anak tidak mengetahui bahwa kasih sayang Ayah kepada anaknya ternyata begitu besar meski tidak nampak langsung oleh sang anak. Jika kita berpikir lagi perjuangan Ayah untuk mencari rezeki tentu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan untuk memenuhi keinginan sang anak yang terkadang sangat menyusahkan.
Pada buku Novel fiksi Indoneisa yang berjudul “Ayah” ini menceritakan tentang perjuangan seorang laki-laki muda bernama Sabari. Pemuda yang baru saja memasuki bangku SMA, kemudian dipertemukan dengan seorang perempuan yang membuat dia tergila-gila. Marlena namanya, wanita dengan mata yang memesona hati oleh para pemuda terutama bagi Sabari, hingga Sabari sulit untuk melupakannya. Sampai pada akhirnya setelah melewati jalan panjang untuk mendapatkan Marlena, lalu Sabari berhasil menikahinya, namun bukan karena cinta, tapi karena paksaan orang tua Marlena.
Tidak butuh waktu lama, merekapun dikarunia anak laki-laki bernama Zorro, nama aslinya Amiru, seorang anak cerdas. Pada cerita di Novel ini Zorro dipisahkan dari kasih sayang ayahnya yaitu Sabari selama delapan tahun lamanya, samapai Sabari hampir gila. Meski demikian ayah yang merindukan kedatangan anaknya itu tidak jadi gila, karena Amiru telah kembali. Dia tumbuh cerdas seperti Sabari, pandai memainkan kata, membuat untaian puisi yang mampu membelalakan mata para pendengarnya.
Begitulah gambaran cerita yang disajikan dalam novel berjudul “Ayah” ini. Novel yang mengisahkan kasih sayang seorang pemuda yang tumbuh tua dengan cintanya terhadap perempuan yang sama sekali tidak mengharap kehadirannya, hingga cinta dan kasih sayangnya mengalir pada anaknya. Sebuah perjuangan yang mengharukan, antara tekad, keinginan, penolakan, persahabatan dan kasih sayang, bercampur dengan sempurna dalam novel ini. Dengan berlatarkan tempat di belitung, Andrea Hirata mempertahankan keasrian cerita yang dikaitkan dengan tanah kelahirannya.
Tutur yang digunakan dalam novel ini tidak berbelit-belit, pembaca akan dengan mudah memahaminya, asalkan tidak merlewatkan cerita pada tiap bab. Karena cerita yang disajikan diawal memiliki dua tokoh berbeda, namun pada akhirnya tokoh utamanya adalah seorang ayah yaitu Sabari.
Novel ini sangat cocok dinikmati oleh para orang tua dan kaum muda yang sedang siap-siap menjadi orang tua. Bahwa kasih sayang seorang ayah tidak kalah besar dari kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Bahwa cinta itu sebenarnya bukan hanya sekadar kata-kata, atau diindahnya puisi, namun cinta itu butuh tindakan dan kesungguhan untuk mendapatkannya.
Membaca keseluruhan novel ini rasanya pembaca diajak untuk berlompatan dari waktu ke waktu. Kisah masa lalu Amiru, Sabari, dan Marlena terbentang dengan  rinci kemudian ditutup dengan manis di bagian akhir khas Andrea Hirata. Namun, ada beberapa bagian cerita yang terlalu singkat penyelesaiannya sehingga sedikit mengurangi kenikmatan membaca novelnya. Termasuk pembaca sedikit terkecoh dengan penggunaan sudut pandang Zorro dan Amiru dalam kisah ini.
Kelebihan Novel Ayah Karya Andrea Hirata
Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang tidak jauh beda apabila dibandingakn dengan gaya bahsa Andrea Hirata pada buku-buku lainnya. Jika kamu penikmat tulisan Andrea Hirata, maka novel Ayah ini bukanlah sesuatu yang mengecewakan. Justru buku ini membuat pembaca semakin cinta dengan karya-karya Andrea Hirata. Buku ini terbagi dalam bab-bab pendek, sehingga pembaca bisa dengan enak mencicil baca.
Buku ini begitu mendidik, sekaligus menghibur. Mendidik pembaca supaya menjadi manusia yang tahu adat, tahu bagaimana harus menjalani hidup, tahu bagaimana harus memposisikan orang-orang yang ada di sekitar kita, khususnya mereka yang mencintai kita.
Buku ini adalah gambaran sempurna tentang cinta ayah kepada anaknya. Memang tidak begitu mengharukan, namun apa yang terjadi pada Sabari adalah sesuatu yang unik, indah, memilukan, membahagiakan, di waktu yang bersamaan. Lagi-lagi, tentu saja ada momen kita tertawa terpingkal-pingkal ketika membaca tulisan Andrea Hirata. Contohnya pada novel Ayah ini.
Buku ini memiliki keunggulan yang unik dan berbeda dengan novel lainnya, yaitu banyaknya puisi yang dibuat sebagai pelengkap cerita. Kalimat demi kalimat mudah dibaca dan ditulis dengan indah serta bermakna. Setelah membaca buku ini kita dapat mengetahui bahasa daerah belitong yang sebelumnya belum pernah mengetahui, seperti yang dituliskan oleh Andrea ada beberapa kata Belitong kuno yang saat ini jarang sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Misalnya saja, gelaning, hademat, ngayau, dan ketumbi.

Kekurangan Novel Ayah Karya Andrea Hirata
Kekurangan pada novel ini ada beberapa halaman terutama di awal-awal bab, Andrea sebagai penulis sering melakukan pengulangan nama yang tidak  perlu. Misal Ukun suka sama A, B, C, D, dst. Penyebutan nama ini terlalu banyak dan sering diulang. Selain itu, ada pula cerita yang terlalu berliku-liku. Misalnya, menceritakan panjangnya hubungan kekerabatan seseorang. Alur campuran yang membuat para pembaca yang jarang membaca akan kebingungan apabila membaca buku ini secara tidak runtut.

--Aulia Salsabila, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

BERTUALANG DI PULAU INDONESIA




Judul               : Arah Langkah
Penulis             : Fiersa Besari
Penerbit           : Mediakita
Cetakan           : I, Mei 2018
Jumlah Halaman : 300 halaman
ISBN               : 978-979-794-561-9

Patah hati tidak selamanya membuat seseorang untuk bermalas-malasan di rumah atau di kamar sambil mendengarkan lagu galau. Dengan patah hati membuat Fiersa Besari atau akrab disapa Bung ini berkeliling Indonesia. Begitulah alasan Fiersa Besari mengelilingi Indonesia dan yang kemudian ditulis dalam buku Arah Langkah. Buku ini merupakan buku keempat dari Fiersa Besari setelah Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta, dan Catatan Juang.
Cerita bermula dari Sumatera. Bung yang sebelumnya telah memutuskan keluar dari pegawai kantoran demi mengejar keinginannya di bidang musik, lalu jatuh hati kepada Mia, dan mengumpulkan rupiah demi menikahinya, kemudian harus rela dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
Pertemuannya dengan Prem dengan nama asli Anisa Andini. Ia seorang gadis tomboy yang menggemari petualangan, dan memiliki keinginan sama seperti Bung untuk keliling Indonesia, lalu membawa mereka pada petualangan yang banyak mengubah hidup. Bung dan Prem tak pergi hanya berdua, tapi bertiga. Ada sosok laki-laki yang bernama Baduy turut ikut serta. Baduy adalah kawan dari kawannya Prem. Walaupun terdapat tiga tokoh penting, cerita dalam buku ini berpusat pada Bung. Alur yang digunakan adalah maju-mundur dimana setiap cerita perjalanannya akan diselingin masa lalu Bung yang kelam dan untuk memotivasi maka Bung melakukan perjalanan senusantara.
Membaca buku Arah Langkah seperti sedang berkeliling Pulau Sumatera hingga ke Pulau Sulawesi. Membaca obrolan-obrolan ketiganya, dengan masyarakat setempat, dan dengan kawan-kawan lama di dunia nyata dan dunia maya yang baru Bung temui setelah meminta tolong untuk sekadar menumpang tidur atau mengobrol bersama.
Selain cerita keseruan petualangan berkeliling Indonesia, buku setebal 300 halaman ini setiap babnya diakhiri gambar-gambar petualangan Bung dan kedua kawannya. Selain itu, judul dari setiap bab hanya terdiri dari satu kata, dan ditulis dalam format PUEBI. Seperti Salah satu contoh judul “ARKAIS” yang memiliki arti (n) berhubungan dengan masa dahulu atau berciri kuno, tua.
Setiap menyinggahi berbagai tempat pasti Bung berkenalan dengan seorang wanita dan Ia mengagumi wanita tersebut meski hanya sekadar mengagumi saja. Begitupun dengan daerah yang Ia singgahi. Wanita yang di tuliskan di buku ini bernama Lady, Intan, Shinta, Ikar.
Selain itu banyak juga kata yang asing didengar ditelinga namun dalam buku ini ditulis dilengkapi dengan catatan kaki sehingga setelah membaca buku ini akan memperkaya kosakata kita. Pada cerita ini kita dapat mengenal kebudayaan di daerah Sumatera dan Sulawesi. Seperti kepercayaan saat sedang mengambil tuak dari pohon Enau, harus sambil bernyanyi. Jika tidak maka air dalam pohon Enau tak akan keluar. Makanya orang batak biasa bernyanyi lantang.
Buku ini memberikan cerita lain tentang kondisi negeri yang tidak selalu sebagus seperti di layar televise. Meskipun begitu, semua daerah yang disinggahi pada buku ini memiliki cerita yang berbeda-beda, namun di dalam perbedaan itu, cinta dan persahabatan selalu bisa ditemukan.

Kelebihan Novel Arah Langkah
Buku ini mengajarkan kita untuk tidak larut dalam kesedihan, karena di balik kesedihan akan muncul keindahan. Pada buku ini juga dapat kita lihat keindahan pulau Sumatera dan pulau Sulawesi dari gambar-gambar yang di abadikan oleh Bung beserta kawan-kawannya. Jika di baca sampai selesai maka kita akan mengetahui bahwa Bung sangat berkesan bisa menjelajahi berbagai daerah di Pulau sumatera dan Pulan Sulawesi, dan menurut Bung semua tempat yang Ia singgahi memiliki cerita yang berbeda, yang sama hanyalah rasa sakit akan berpisah dari tempat itu. Cerita ini sangat menarik karena di mulai dari judul dan isi cerita menggunakan PUEBI membuat pembaca lebih menambah pengetahuan yang sebelumnya tidak mengetahui.
Kekurangan Novel Arah Langkah
Ada sedikit kekurangan pada cerita Arah Langkah ini, karena akhir cerita di buku ini sangat nanggung. Bagi saya selaku pembaca mengharapkan bahwa akhir cerita dapat melihat Raja Ampat, karena salah satu destinasi akhir perjalanannya. Sangat di sayangkan cerita bersambung di pulau Sulawesi.

--Aulia Salsabila, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).